dedikasi.id – Memiliki tiga komoditas penting membuat desa layak disebut masa depan dunia. Tiga komoditas penting tersebut adalah udara bersih, air bersih dan pangan sehat. Komoditas ini tidak bisa dipastikan akan terus lestari jika kita tidak mengambil peran untuk menjaganya. Sebenarnya, desa memiliki daya tawar yang kuat untuk melawan hegemoni kota yang cenderung memandang masyarakat desa sebagai kelompok miskin dan berpendidikan rendah. Namun, tugas siapa untuk mewujudkannya? Tentu, kita bersama.

Lurah Panggungharjo, Sewon, Bantul, Wahyudi Anggoro Hadi mengemukakan perspektif tentang desa. Bagi desa, agama dan kebudayaan itu menjadi basis nilai dalam mengatur relasi antara manusia dengan manusia, alam dengan penciptanya. Sedangkan, walaupun masyarakat kota juga mempunyai agama dan kebudayaan, tetapi yang dipahami oleh masyarakat kota adalah agama yang berhenti pada ritus dan ekspresi kebudayaan, tidak menjadi basis nilai yang mengatur relasi sesama.

Kebudayaan tersebut yang kemudian menyelamatkan dan membuat desa itu tangguh berhadapan dengan berbagai isu kemasyarakatan salah satunya di masa pandemi Covid-19 ini. Covid-19 mendekonstruksi semua tatanan tanpa teriakan revolusi. Kapitalisme tumbang; untuk mempertahankan ekonomi pasar di negara kita, tahun 2020 harus menyubsidi 700-an Triliun, sekadar menjaga ekonomi pasar tumbuh kembali. Sosialisme tiarap, radikalisme sibuk dengan internal mereka. Tetapi, ada satu entitas yang tangguh yaitu “desa”. Entitas keluarga menjadi entitas tertinggi. Puncak dari relasi sosial adalah kekeluargaan, tepa selira dan sambatan. Puncak dari relasi ekonomi adalah kerjasama, dan puncak dari relasi politik adalah negosiasi.

Identitas kebudayaan dan tradisi di desa yang terus dipertahankan menjadi kekuatan tersendiri bagi masyarakatnya. Dalam proses penentuan arah desa untuk menggapai tujuan yang saya kemukakan tadi, tentunya kita tidak bisa melewatkan satu hal: partisipasi warganya.

Valderama dalam bukunya berjudul Arsito mengungkapkan bahwa partisipasi strategis masyarakat merupakan variabel yang sangat mengetahui potensi, kondisi, masalah, kendala, dan kepentingan (kebutuhan) masyarakat setempat. Maka, partisipasi masyarakat yang benar-benar berdasar pada skala prioritas pasti dapat diterima oleh masyarakat luas (acceptable) dan dianggap layak dipercaya (reliable) untuk dapat dilaksanakan (implementasi) secara efektif dan efisien.

Begitu banyak kekuatan yang dimiliki oleh desa, namun tulisan ini tidak mendorong kita untuk memilih menjadi manusia desa dengan mengamini stigma umumnya; konservatif. Tentu, tidak. Namun, tulisan ini membawa dua sudut pandang tegang yang hadir terkait desa dan mahasiswa yang semestinya didamaikan.

Sudut pandang pertama yakni masyarakat desa yang cenderung memandang negatif mahasiswa yang kembali ke desa setelah mengenyam perkuliahan, tetapi ia belum membawa karir nyata. Kedua, banyaknya sarjana yang memilih menetap di kota dibanding kembali ke desa karena anggapan mereka akan kesulitan mencapai keberhasilan di desa.

Sudah kentara, keduanya sama-sama menjauh, baik masyarakat desa maupun mahasiswanya sendiri. Sedangkan, jika kita menilik lebih jauh tantangan terberat yang dihadapi pemerintah desa saat ini adalah rendahnya kapabilitas masyarakat desa yang masih tidak proaktif. Banyak masyarakat desa yang tidak melek literasi finansial, padahal ini adalah fondasi dasar pengembangan kapabilitas individu. Sebuah celah yang harusnya diisi oleh mahasiswa untuk memposisikan dirinya sebagai penggerak budaya literasi.

Oleh karena itu, menjadi penting bagi kita mahasiswa untuk kembali ke desa dan mengisi peran tersebut, pun juga menjaga tiga komoditas strategis yang tidak dimiliki oleh kota yang saya paparkan di awal. Sebab, kelak orang tidak akan lagi berperang memperebutkan sumber energi tambang. Saat tambang tak lagi dipersoalkan -karena telah habis- tiga komoditas tadi lah yang selanjutnya harus diperjuangkan.

Ketika kini telah kita tahu bahwa desa memiliki beberapa potensi, tetap saja tidak akan berarti tanpa adanya peran dari kita mahasiswa atau insan terdidik untuk memberi sumbangsih. Kemudian, dua sudut pandang yang bersitegang tadi alangkah baiknya -tanpa harus dipaksa- berdamai dan mulai menerima. Masyarakat dan mahasiswa harus saling memahami. Siapa tahu, mahasiswa yang kembali ke desa mempunyai cita-cita besar dalam hatinya untuk membawa kebaikan bagi sekelilingnya.

Akhirnya, untuk menutup opini ini, saya teringat pernyataan dari Bung Hatta, “Indonesia tidak akan besar karena obor di Jakarta, tetapi akan bercahaya karena lilin-lilin di desa.”

Baca juga artikel terkait Opini menarik lain di dedikasi.id

Penulis: Ela Qo