dedikasi.id – Sebagai mahasiswa baru yang polos—dua tahun yang lalu, tepatnya tahun 2019—saya tidak mengetahui arti oligarki. Umumnya, kata tersebut sering terpampang dan diteriakkan ketika demonstrasi berlangsung. Dulu, saat sekolah menengah, saya suka ‘mengkritik’ pemerintah berbekal bacaan dari salah satu seniman jalanan di Yogya yang aktif mengkritik pemerintah menggunakan media poster. Dari situ, wawasan politik saya dapat walau tidak banyak. Lumayan untuk pengetahuan dan menambah daya peka terhadap keadaan sekitar. Ya, walaupun tidak peka-peka amat.

Celakanya, istilah oligarki masih asing bagi saya yang baru duduk di perguruan tinggi dan bertemu kakak-kakak yang masif menyeru kritik. Hanya sedikit pengetahuan politik saya saat itu. Saya kemudian mencari makna oligarki yang sebenarnya. Pikiran polos saya langsung menyasar kehidupan politik kampus —sebut saja kampus tebu— di mana terjadi sentralisasi kekuasaan yang diisi oleh beberapa orang dari kelompok tertentu saja.

Sebelumnya, mari kita mengulas sedikit pengertian oligarki. Oligarki menurut KBBI diartikan sebagai sebuah pemerintahan yang dijalankan oleh beberapa orang dari kelompok tertentu. Sedangkan dalam teori Thomas Aquinas, istilah oligarki dapat disimpulkan berupa kekuasaan oleh kelompok kecil, sedangkan dalam oligarki penguasa, negara menindas rakyat melalui represi terhadap ekonomi. Ciri-ciri negara yang menganut sistem oligarki adalah kekuasaan dipegang atau dikendalikan oleh segelintir orang dari kelompok tertentu, lalu terjadi kesenjangan material, dan kekuasaan hanya dimiliki oleh penguasa untuk mempertahankan kekayaannya saja.

Lebih lanjut, saya akan menyederhanakan pengertian oligarki sebagai suatu sistem kekuasaan yang dikendalikan oleh segelintir orang dari kelompok tertentu. Bukan bermaksud memangkas atau membuat arti baru. Namun karena apa yang ada di kampus saya hampir sama dengan sistem oligarki, kekuasaan tertinggi di kampus dan juga petinggi mahasiswanya didominasi oleh orang-orang dari salah satu organisasi kemahasiswaan. Pola ambil kuasa juga terjadi. Bedanya, oligarki negara dilakukan untuk mempertahankan kekayaan penguasa, oligarki kampus bertujuan mempertahankan eksistensi pribadi atau organisasinya.

Penggunaan kata oligarki, jika dianggap terlalu kebablasan, kita akan lihat fakta yang membuat saya geram dengan polah para ‘elite’ kampus ini. Semoga masih ingat, kepanitiaan acara besar banyak dikemas oleh organisasi mahasiswa ekstra kampus (ormek) biru kuning. Faktanya, para panitia ini adalah anggota HMPS dan sisanya perwakilan UKM. Tak ayal, PBAK dua tahun lalu, bendera dari ormek tersebut berkibar tepat di depan gedung utama gelaran PBAK. Entah tersirat maksud apa pemasangan bendera mereka. Sependek pengetahuan saya, PBAK merupakan acara internal kampus. Lantas mengapa organisasi ekstra kampus dapat menyelipkan promosi di dalamnya. Menurut saya, tidak elok.

Satu lagi, di gelaran yang sama berbeda periode yaitu PBAK IAIN Kediri 2021. Papan nama mahasiswa baru yaitu ‘perisai’ dibentuk senada dengan lambang ormek biru kuning. Saat dikonfirmasi, panitia mengaku kebingungan dalam penentuan bentuk papan nama untuk mahasiswa baru. Oke, saya maklumi.

Namun, perlu digaris bawahi lagi, agar tidak menjadi bola liar. Yang saya permasalahkan adalah mengapa acara internal kampus bisa menjadi ajang promosi guna mencari kader organisasi ekstra? Apakah tidak ada cara lain yang lebih elegan? Normalnya, dengan membuka Living Kost, seminar penulisan makalah, atau yang lain. Pokok tidak nyempil-nyempil di acara internal kampus, sudah cukup untuk mengenalkan organisasi ekstra kepada maba. Entahlah, gegara beberapa hal tadi, kepanjangan dari PBAK sampai dipelesetkan netizen sebagai Pengenalan Budaya Angkut Kader.

Kabar buruknya, penyusupan angkut kader pada acara internal kampus, tidak hanya terjadi di kampus saya. Sepanjang penelusuran—walau tidak panjang-panjang amat—serta kerap bertemu dengan kawan dari berbagai kampus Islam, mereka mengungkap hal yang sama. Setidaknya, walau hanya sekadar asumsi, pengakuan mereka dapat menjadi penguat pendapat saya.

Lantas, apa hubungan semua itu dengan wacana oligarki yang saya bangun di atas? Jika merujuk pada penyederhanaan makna oligarki, menurut saya, semua kasus yang (mungkin) memalukan itu, terjadi karena sentralisasi kekuasaan. Di mana semua lini birokrasi kampus mulai dari HMPS, DEMA serta SEMA hanya diisi oleh orang-orang dari ormek tertentu saja. Kemungkinan untuk menumpang promosi dalam acara internal kampus jadi terbuka lebar karena pada acara itu, yang mengontrol, ya, mereka.

Sekali lagi, hal itu mungkin bagi sebagian orang adalah lumrah. Namun bagi saya, hal-hal tadi termasuk penyalahgunaan acara dan tindakan yang memalukan. Tak adakah cara yang lebih elegan lagi? Jika sudah seperti ini, bolehkah saya kemudian skeptis dengan orang-orang dari ormek tersebut? Kala masa depan, mereka mencalonkan diri, misalnya menjadi wakil rakyat. Akankah melakukan hal yang memalukan itu? Semoga saja tidak, sebab mereka bagian dari pemuda pada umumnya yang disebut harapan bangsa.

Akhir kata, saya berharap agar tulisan ini menjadi kritik bagi pihak-pihak yang merasa tersentil. Jika pembaca merasa tulisan ini kurang, bahkan tidak sependapat, saya berharap agar pembaca dapat membalasnya dengan tulisan pula. Sejujurnya, saya menulis ini bukan untuk memojokkan kelompok tertentu, tetapi agar sama-sama menyadari dan berbenah.
Tabik.

Baca juga artikel terkait Opini atau tulisan menarik lain di dedikasi.id

(dedikasi.id – Opini)

Penulis: Achmad Syafi’i

Editor: Ela Qo