dedikasi.id – Diskriminasi terhadap perempuan menjadi sebuah realitas sosial yang tak asing bagi kita. Berbagai pemberitaan mengenai ketidakadilan terhadap perempuan seperti kekerasan dan pelecehan seringkali kita dapati bertebaran dalam surat kabar, televisi, bahkan media sosial.

Dilansir dari website Komnas Perempuan, sepanjang tahun 2020 setidaknya terdapat 299.911 kasus kekerasan pada perempuan. Kasus ini dihimpun dari berbagai jenis kasus kekerasan terhadap perempuan, mulai dari kekerasan terhadap istri, kekerasan dalam pacaran, kekerasan terhadap anak perempuan, dan lain sebagainya. Kasus yang dilaporkan ini hanyalah sebagian kecil dari kasus yang terjadi di masyarakat. Sulitnya mendapatkan akses bantuan dan pemulihan membuat banyak para korbannya memilih untuk bungkam dan tidak melakukan pelaporan.

Fakta di atas membuka mata kita bahwa perempuan di Indonesia masih sangat rentan terhadap diskriminasi karena gender. Anggapan bahwa perempuan lemah, tidak berdaya dan tidak lebih baik dari laki-laki melahirkan ketidakadilan gender di kalangan masyarakat. Hal inilah yang kemudian menempatkan perempuan pada posisi subordinat dan marginal di berbagai bidang kehidupan. Di bidang pendidikan, seorang perempuan dianggap tidak perlu menuntut ilmu terlalu tinggi. Di bidang ekonomi, masih kita dapati perempuan yang dipersulit dalam berkarir. Pun, di bidang politik, peran perempuan sebagai pemimpin masih dipersoalkan. Berhenti di situ? Tidak, masih banyak lagi.

Lantas, apa yang kemudian menyebabkan diskriminasi terhadap perempuan ini masih terus subur di masyarakat. Jika ditelaah lebih jauh, kita akan mendapati bahwa pemahaman dan praktik agama yang bias mengambil peran dibaliknya. Ironi memang, ketika agama yang seharusnya menjadi jalan keselamatan bagi pemeluknya, namun malah dijadikan legitimasi untuk menyuburkan ketidakadilan. Wacana agama ini sangat sensitif, namun untuk menghindari misleading perlu dipahami bahwa bias agama disini merujuk pada aliran agama konservatif.

Aliran konservatif dalam agama dipengaruhi oleh faktor sejarah, budaya dan tradisi yang melahirkan mitos atas nama nilai dan ajaran agama. Aliran konservatif ini menggiring dogma bahwa posisi perempuan yang subordinat dan marjinal merupakan kodrat yang telah ditentukan oleh Tuhan, maka memperjuangkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan adalah perbuatan yang menentang Tuhan. Pemikiran ekstrem semacam ini tentunya menimbulkan dampak negatif, tidak hanya pada mereka yang menjalankan namun juga membuat masyarakat luas akan memandang sebelah mata agama yang dibawa. Maka dari itu, diperlukan konsep beragama yang menghindari keekstreman seperti ini. Disinilah moderasi beragama hadir sebagai jawaban.

Moderasi beragama adalah suatu cara pandang dalam memahami dan menjalankan ajaran agama secara moderat, selalu bertindak adil, dan tidak ekstrem dalam beragama. Cara beragama ini mengambil posisi tengah antara dua sisi keekstreman yaitu menghindari sikap berlebihan maupun sikap meremehkan ajaran agama. Dengan dua prinsip dasar yakni keseimbangan dan keadilan, moderasi beragama berusaha untuk mencari titik temu antara dua kutub keekstreman. Sehingga, bisa dikatakan bahwa moderasi beragama ini akan bermuara pada usaha memerangi ketidakadilan di tengah masyarakat beragama termasuk diskriminasi gender.

Konsep moderasi beragama yang menolak diskriminasi gender khususnya terhadap perempuan dapat kita lihat dari bagaimana Islam yang moderat dijalankan. Mereka yang menjalankan ajaran Islam secara moderat akan berpikir lebih progresif dengan memandang perempuan setara dengan laki-laki. Di dalam Al-Qur’an sendiri terdapat banyak ayat yang mengisyaratkan hal ini, contohnya pada surat Al-hujurat ayat 13. Inti dari ayat ini adalah bahwa Allah SWT menciptakan laki-laki dan perempuan dan yang paling mulia di sisi-Nya yakni yang paling bertakwa.

Jadi, antara laki-laki dan perempuan tidak ada yang lebih baik antara satu dengan yang lainnya, yang paling baik adalah yang paling bertakwa. Jika dikaji lebih jauh lagi ada banyak ajaran Islam yang memuliakan perempuan. Namun, seringkali perempuan Islam tidak mendapat perlakuan yang sesuai dengan petunjuk Islam disebabkan adanya aliran konservatif yang dijelaskan sebelumnya. Maka dari itu, penguatan moderasi beragama menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengentasan diskriminasi terhadap perempuan.

Baca juga artikel terkait Opini menarik lainnya di dedikasi.id

Penulis : Cantika Sari Dewi. M

*(Penulis adalah mahasiswi KKN DR IAIN Kediri 2021)