Dalam bukunya The Art of Thinking Clearly, Roff Dobelli memaparkan mengenai efek fitur positif (feature – positive effect) atau dengan kata lain orang cenderung lebih menekankan pada apa yang ada daripada apa yang tidak ada.

dedikasi.id – Bulan pengiring semester gasal selalu menarik untuk diikuti. Bahkan di masa pandemi sekalipun euforianya masih sangat kencang terasa. Mulai dari kehebohan adik – adik yang kelewat riweh minta dibelikan baju baru, tas baru, buku tulis baru. Antusiasme kakak-kakak SMP/MTS/SMA dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan Masa Ta’aruf Siswa Madrasah (MATSAMA).

Keceriaan feed IG yang dipenuhi oleh perkenalan mahasiswa baru, saya Soliha dari prodi PSI (Pengentasan Sifat Iri dengki) siap mengikuti PBAK IAIN Kediri 2021. Sepaket dengan senyum manis dan atribut yang melambangkan nasionalisme itu. Hingga gegap gempita story WhatsApp mahasiswa tua yang setiap hari mohon bantuan like dan share video KKN – DR. Tidak lupa, iring – iringan kegembiraan ini ditutup dengan sesi wisuda berjilid-jilid -sudah seperti demo- lengkap dengan para wisudawan yang ganteng dan ayu.

Mari kita kembali berbicara mengenai kehebohan mahasiswa baru, yang konon sudah siap untuk menyandang gelar ‘mahasiswa’. Empat hari serangkaian zoom meeting dan live YouTube yang dinamakan PBAK online sukses mengantarkan maba mengenal kehidupan kampus, memberi gambaran mengenai intra dan bonus yakni spill manja kampus mengenai ormek.

Loh, kok jadi pengenalan ormek segala, kan, menyalahi aturan permenristekdikti, ormek apapun dilarang melakukan kegiatan di dalam kampus.

Lah bagaimana tidak dibilang spill manja wong kampus sendiri tidak mau berterus terang, malah cuma isyarat-isyarat begitu, xixixi. Coba lihat nametag PBAK yang disyaratkan oleh pihak kampus. Jika dilihat sekilas bentukannya mirip logo salah satu ormek. Sebenarnya, sah sah saja kampus mau pakai bentukan yang bagaimana. Ya, memang benar itu bentuk perisai, dengar-dengar filosofinya itu benteng yang menjaga NKRI. Wah, bagus sekali sih ini filosofinya adik-adik maba diperkenalkan dengan optimisme sejak dini.

Saya jadi teringat tulisan Mbak Kalis Mardiasih tentang jilbab beberapa tahun lalu, “…simbol memang dipersepsikan mewakili sesuatu. Seperti jilbab dianggap mewakili muslimah..”

Bagi kami mahasiswa lama mungkin mafhum bahwa penggunaan perisai bercorak salah satu ormek ini persepsinya bukan suatu kepastian, selain memang juga dipaparkan sama mba Kalis sendiri di kalimat selanjutnya, xixixi. Namun, bagi orang awam seperti maba-maba yang polos tentu hal ini bisa dimaknai berbeda.

Ada kecenderungan berfikir karena kampus mengambil bentuk nametag perisai, mungkin ormek ini adalah tangan kanan kampus, pasti isinya orang – orang kepercayaan. Juga, ada kecenderungan lain lagi, yakni apa yang disebut efek fitur positif. Orang-orang cenderung menekankan pada apa yang ada dan menafikan apa yang tidak ada atau tidak terlihat. Jadi, karena yang di spill cuma satu ormek tertentu bisa bisa adik maba ikut – ikutan berfikir kalau ya memang adanya cuma satu ormek itu,  padahal kan dia punya saudara. Tapi sepertinya tidak, adik-adik maba kan cerdas cerdas sudah pada tamyiz.

Tapi tetap saja kehormatan kampus itu yang utama, tidak boleh ada kesan kampus melakukan deep suggesty pembiasaan maba terhadap simbol – simbol yang identik dengan lembaga tertentu. Saya yakin pasti pihak kampus lebih faham mengenai kecenderungan manusia untuk menganggap apa yang pertama kali diketahui sebagai sesuatu yang benar. Lebih – lebih kalau di kemudian hari terjadi komposisi yang tidak seimbang antar ormek kampus, tentu hal ini berdampak pada tidak sehatnya kehidupan politik kampus seperti HMPS dan DEMA.

Karena ihwal marwah ini sangat penting, maka saya mengusulkan jika PBAK tahun depan pihak kampus masih setia menggunakan bentuk perisai, maka lebih baik memakai perisai yang ada di lambang Pancasila. Selain kampus terbebas dari isu afiliasi, memakai perisai ini juga menguatkan rasa nasionalisme para dedek maba atau sekalian bentuk topi sarjana itu, kan keren. Jika kurang keren bisa pakai perisainya Captain America, wah, pasti ciwi – ciwi pada seneng. Kalau ingin lebih dekat dengan kearifan lokal, bisa memakai perisai yang ada di logo Kota Kediri. Selain itu pemakaian perisai ini juga memudahkan maba dalam proses pembuatannya (dengan sudut yang lebih minim tentu lebih mudah). Jika masih ingin mempertahankan perisai segi 5 seperti tahun ini, bisa juga memakai perisai yang ada di logo Jawa Timur, bagus sekali itu dan bebas isu.

Saya sebenarnya mengerti bahwa membuka opini dengan bahasa yang ndakik – ndakik sepertinya tidak akan menarik minat pembaca. Lah bagaimana, wong kita niat mau baca opini kan biar genah duduk perkaranya bagaimana, eh ini diajak mikir. Tapi buat pembaca yang udah sampe disini, Terima kasih!

Baca juga artikel terkait Opini menarik lainnya di dedikasi.id

Penulis: Fina Qurrota

Editor: Cantika