dedikasi.id “Women Supporting Women” menjadi salah satu tagline andalan para kaum feminisme dalam menyuburkan pahamnya di muka bumi. Tenang. Tulisan ini tidak dibuat untuk mengkritik tajam paham feminisme. Hanya saja, nampaknya tagline ini belum betul-betul mengakar pada semua orang yang mengatakan dirinya sebagai seorang feminis. Ceritanya bermula ketika seorang ibu yang merupakan influencer ‘dakwah’ diserang oleh akun-akun yang mengatasnamakan dirinya feminis. Inti dari serangan mereka terkait ‘menjadi wanita yang taat beragama hanya akan menjerumuskanmu dalam dunia patriarki’. Nah, stereotip dari segelintir feminis inilah yang ingin saya luruskan.

Saya tidak tahu apa background agama orang-orang dibalik akun yang menyerang tadi. Yang jelas, sudah pasti Ibu yang diserang beragama Islam. Sehingga bisa dikatakan bahwa orang-orang yang membawa feminisme sebagai tamengnya ini secara tidak langsung menyerang ajaran Islam. Semacam menganggap bahwa ajaran Islam melahirkan dan mendukung budaya patriarki. Lantas, benarkah Islam bertentangan dengan feminisme? Jawabannya adalah tergantung. Yaa tergantung konteksnya apa.

Ketika berbicara mengenai penyamaan hak antara laki-laki dan perempuan yang digaungkan feminisme, tentunya Islam menyambut baik hal ini. Bahkan Islam sudah menyadari persamaan hak antara keduanya jauh sebelum gerakan feminisme berdiri. Di awal kemunculannya, angin segar kesetaraan gender telah dihembuskan oleh Islam. Praktik patriarki yang menganggap perempuan tidak memiliki harga diri saat itu ditentang keras oleh Islam. Diskursus tentang kesetaraan gender kemudian Allah abadikan dalam Al-Qur’an. Terdapat banyak dalil yang membahas tentang ini. Contohnya, dalam QS Ali-Imran ayat 195 yang mana menjelaskan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan amal hamba-Nya, baik laki-laki maupun perempuan. Jika dalil-dalil tentang kesetaraan gender disatukan, intinya adalah bahwa dalam Islam seseorang dilihat karena amalnya bukan karena latar belakang gendernya.

Konteks lain yang lebih spesifik dan kerap dijadikan gorengan bagi segelintir kaum feminisme kepada dunia Islam yakni terkait kehidupan keluarga. Urusan karier dan domestik. Konteks yang sama menjadikan Ibu di cerita sebelumnya sebagai sasaran empuk. Keputusan yang hanya menjadi ibu rumah tangga di luar aktivitas dakwahnya di media sosial bagi feminis dirasa sebagai pilihan menjadi budak keluarga. Image sang Ibu sebagai seorang pendakwah pun menjadi pendukung atas stigma yang dilayangkan feminis di atas. Padahal, ini adalah pilihan Ibu itu sendiri sebab telah merasa cukup mengaktualisasikan dirinya melalui media sosial. Makanya, segelintir feminis tadi blunder lagi disini. Heh, ‘Women Supporting Women’ katanya.

Rasulullah sebagai teladan bagi umat Islam telah mengajarkan kita bahwa urusan domestik rumah tangga bukanlah tugas istri seorang. Aisyah, istri Rasulullah menceritakan bahwa Nabi tak jarang membantunya ketika berada di rumah. Maka dari itu, dalam Islam, urusan rumah tangga adalah tugas bersama suami dan istri yang berasaskan negosiasi bukannya dominasi. Jika ada suami yang tidak mau membantu istrinya di rumah, saya mengindikasikannya sebagai Islam KTP. Beralih pada urusan karier, menurut saya, Islam membebaskan perempuan untuk memilih bekerja atau tidak selama tidak bertentangan dengan syariat. Dalam Islam, kita diajarkan bahwa ilmu tanpa amal bagai pohon tak berbuah. Ilmu yang dimiliki kelak akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Ketika Allah bertanya “Apa manfaat yang telah engkau lakukan bagi umat dengan ilmumu,” Tidak cocok bukan jika seorang sarjana fisika bersembunyi dibalik jawaban  ‘menjadi ibu rumah tangga dan mendidik anak saja.”

Penjelasan diatas menunjukkan kesesuaian feminisme dalam Islam. Namun, makin kesini, tidak semua konteks feminisme dapat diterima dalam Islam karena ada juga feminisme yang radikal. Contohnya, konsep yang memberikan kebebasan bagi wanita untuk memilih sendiri busana seperti apa yang mau ia gunakan, keputusan untuk tidak menikah dan atau melahirkan, dan kampanye LGBT. Contoh-contoh ini tentunya telah menyalahi ajaran yang telah dibawa oleh Islam. Konsep aurat dalam Islam sudah diatur maka tidak dapat diganggu gugat oleh argumen hasil olah pikir manusia. Lalu, memutuskan untuk tidak menikah atau melahirkan serta perilaku LGBT adalah bentuk penyimpangan atas kodrat yang telah Allah anugerahkan kepada manusia.

Pada akhirnya, feminisme untuk beberapa hal memang selaras dengan Islam namun ada juga yang tidak. Internet dan media sosial saat ini membantu ekspansi feminisme menjadi lebih kompleks. Hal ini tentu perlu menjadi perhatian kaum muslimin untuk tetap menjadikan Islam sebagai jalan keselamatan hidup dalam menyikapinya. Dengan demikian, akan lahir feminis-feminis muslim yang menggaungkan keadilan gender tanpa melupakan kodratnya sebagai hamba Allah dan khalifah fil ardh. Inilah feminisme yang lahir dari rahim Islam.

Baca juga artikel menarik terkait Opini lainnya di dedikasi.id

(dedikasi.id – Opini)

Penulis: Cantika Sari Dewi M.