Segera Berganti! IAIN Kediri Akan jadi UIN Syekh Wasil
16 Desember 2023
Wisata Minggu Pagi di Tengah Kota Kediri, Taman Sekartaji
6 September 2023
Gen Z dalam Pusaran Era Society 5.0
25 April 2021
Pagi itu, Arga kembali membuka laptopnya. Jemarinya sudah hafal letak tombol “Kirim Lamaran”. Dalam sehari, ia bisa mengirim puluhan surat lamaran ke berbagai perusahaan. Namun, hasilnya hampir selalu sama: tidak ada balasan, atau sekadar ucapan terima kasih karena telah mengikuti proses seleksi.
Di dinding kamarnya tergantung sebuah bingkai berisi ijazah sarjana yang diperolehnya dengan susah payah. Empat tahun kuliah, puluhan tugas, ratusan lembar laporan, serta berbagai pengorbanan orang tua telah mengantarkannya menjadi seorang sarjana. Dahulu, saat pertama kali melangkahkan kaki ke kampus, Arga membayangkan masa depan yang cerah. Ia percaya bahwa pendidikan tinggi adalah jalan untuk memperbaiki kehidupan.
Nyatanya, setelah wisuda usai dan toga dikembalikan, ia justru memasuki ruang yang penuh ketidakpastian.
Arga bukan satu-satunya. Di grup alumni kampusnya, banyak teman yang mengalami hal serupa. Ada yang bekerja di bidang yang sama sekali tidak berhubungan dengan jurusannya. Ada yang memilih membuka usaha kecil-kecilan. Ada pula yang masih menunggu panggilan kerja sambil sesekali mengikuti pelatihan daring.
Mereka membawa ilmu ke mana-mana, tetapi sering kali tidak menemukan tempat untuk mempraktikkannya.
Suatu sore, Arga menghadiri reuni kecil bersama teman-teman kuliahnya. Obrolan yang dahulu dipenuhi mimpi dan rencana besar kini berubah menjadi cerita tentang seleksi kerja, pengalaman ditolak perusahaan, hingga sempitnya kesempatan kerja yang tersedia.
“Kadang aku merasa kita dicetak terlalu banyak,” ujar salah seorang temannya. “Setiap tahun kampus meluluskan ribuan sarjana, tetapi lapangan pekerjaan yang sesuai tidak bertambah sebanyak itu.”
Semua terdiam.
Mereka sadar bahwa persoalan ini tidak sesederhana rajin atau malas. Banyak lulusan yang sebenarnya memiliki kemampuan dan kemauan untuk bekerja. Namun, jumlah pencari kerja sering kali lebih besar daripada kesempatan yang tersedia. Akibatnya, persaingan menjadi sangat ketat.
Arga teringat saat orientasi mahasiswa baru bertahun-tahun lalu. Para mahasiswa duduk penuh semangat mendengarkan motivasi tentang masa depan. Tidak ada yang salah dengan harapan-harapan itu. Namun, jarang ada yang benar-benar membicarakan kenyataan bahwa gelar sarjana bukanlah tiket otomatis menuju pekerjaan.
Pendidikan memang memberikan pengetahuan dan keterampilan, tetapi tidak selalu menjamin tersedianya pekerjaan bagi setiap lulusan.
Beberapa waktu kemudian, Arga membaca berita tentang berbagai program pemerintah untuk membuka lapangan kerja dan memenuhi kebutuhan tenaga di berbagai sektor. Dalam beberapa posisi tertentu, persyaratan pendidikan tidak selalu harus sarjana. Kebijakan semacam itu tentu memiliki alasan tersendiri, misalnya untuk menyesuaikan kebutuhan pekerjaan dan memperluas kesempatan bagi masyarakat dengan latar belakang pendidikan yang beragam.
Namun, bagi sebagian sarjana yang masih mencari pekerjaan, kondisi tersebut terkadang menimbulkan kecemasan. Mereka merasa telah menempuh pendidikan tinggi dalam waktu yang lama, tetapi tetap harus bersaing di tengah pasar kerja yang semakin padat.
Malam itu, Arga duduk di teras rumah bersama ayahnya.
“Apa kuliahku sia-sia, Yah?” tanyanya pelan.
Ayahnya menggeleng.
“Tidak ada ilmu yang sia-sia. Yang perlu kita pikirkan bukan hanya bagaimana mencari pekerjaan, tetapi juga bagaimana menciptakan nilai dari ilmu yang sudah dimiliki.”
Arga terdiam. Kalimat itu sederhana, tetapi membuatnya berpikir.
Mungkin masalahnya bukan pada pendidikan itu sendiri. Pendidikan tetap penting sebagai bekal untuk membangun kemampuan berpikir, beradaptasi, dan memecahkan masalah. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana dunia pendidikan, dunia usaha, dan pemerintah dapat berjalan lebih selaras, sehingga lulusan memiliki jalur yang lebih jelas untuk mengembangkan kompetensinya.
Ia sadar bahwa persoalan pengangguran terdidik bukanlah kesalahan satu pihak. Kampus berusaha mencetak lulusan terbaik, mahasiswa berusaha belajar sebaik mungkin, pemerintah berupaya membuka kesempatan kerja, dan dunia usaha mencari tenaga yang sesuai dengan kebutuhan. Namun, ketika semuanya tidak terhubung dengan baik, lahirlah ribuan sarjana yang kebingungan menentukan arah setelah wisuda.
Arga memandang kembali bingkai ijazah di kamarnya.
Dulu, ia mengira ijazah adalah garis akhir perjuangan. Kini, ia mengerti bahwa ijazah hanyalah sebuah pintu. Sayangnya, tidak semua orang langsung menemukan jalan di balik pintu itu.
Dan di luar sana, masih banyak “pengangguran terdidik” yang berdiri di depan pintu yang sama—membawa ilmu, membawa harapan, tetapi masih mencari tempat untuk mewujudkannya.
Penulis : Ijaa
Editor : Saffana Alfy
Illustrator : Maya
Karya yang Anda baca merupakan salah satu karya terpilih dalam program kerja Open Publish Karya yang diselenggarakan oleh LPM Dedikasi. Program ini menjadi wadah bagi mahasiswa UIN Syekh Wasil Kediri untuk menyalurkan kreativitas, mengembangkan kemampuan literasi, serta mempublikasikan karya kepada khalayak yang lebih luas.
Teman-teman yang ingin mempublikasikan karya juga dapat menghubungi Ketua LPM Dedikasi maupun humas, jangan lupa follow media sosial LPM Dedikasi agar tidak ketinggalan informasi, program, dan kesempatan publikasi karya berikutnya.
© 2023 Dedikasi.
slot online gacor server thailand
https://www.guiamaster.com.ar/rubros/taxis
https://www.masaya.uml.edu.ni/
https://abtennisdevelopment.com/about/
https://imageauboutdesdoigts.org/
http://www.ritualhelper.lviv.ua/krematoriy/
https://uwaisteam.com/writingcamp
https://fintechplicity.com/trading/
https://billiardsamara.ru/blog/
https://revistajireh.uml.edu.ni/publicaciones/
https://bashqash.com/bashqash-blog/