(DEDIKASI.ID) – Senja perlahan turun di tepian Sungai Cikijing, Desa Bojongloa Kec. Rancaekek, Kab. Bandung, Jawa Barat. Sungai itu tidak lagi hitam pekat seperti cerita masa lalu yang berulang kali disebut warga. Namun, di balik permukaannya yang terlihat jernih, tersimpan jejak panjang yang belum benar-benar hilang.
Di sepanjang bantaran, sawah-sawah terbentang. Beberapa petani masih setia menggarapnya di bawah terik matahari. Tapi bagi mereka, sungai itu tak lagi menjadi sumber kehidupan seperti dulu. Airnya kini harus dipompa, tanahnya tak lagi sepenuhnya subur, dan ikan yang dulu menjadi penopang ekonomi kini menghilang.
Di sinilah cerita tentang Sungai Cikijing bermula. Bukan sekadar tentang air yang tercemar, tetapi tentang perubahan hidup, kehilangan hak penghidupan, dan pertanyaan panjang mengenai tanggung jawab yang belum sepenuhnya terjawab.
Ketika Sungai Menjadi Sumber Kehidupan
Di teras rumahnya yang dicat merah dengan dinding kuning dan gerbang bernuansa oren kemerahan, Asep sebagai ketua kelompok tani setempat mengenang masa ketika Sungai
Cikijing benar-benar menjadi nadi kehidupan. Saat itu sore menjelang berbuka, ia duduk bersama dua buruh tani, sementara istrinya sibuk menyiapkan hidangan dengan balutan pakaian hijau kekuningan.
Ia menjelaskan bagaimana petani tidak hanya menanam padi, tetapi juga membudidayakan ikan setelah masa panen. Sawah yang sama disulap menjadi tambak, diisi benih ikan selama sekitar tiga bulan sebelum kembali ditanami padi. “Dulu mah, ikan sama padi, ikannya bagus padinya subur,” ujar Asep saat diwawancarai di rumahnya, Senin (16/3/2026).
Menurutnya, Sistem ini bukan hanya tradisi, tetapi juga strategi ekonomi. Dalam satu hektar, hasil padi bisa mencapai delapan ton gabah basah. Sementara dari budidaya ikan, petani bisa memperoleh hingga tiga kuintal, bahkan mencapai tiga ton jika seluruh lahan dimanfaatkan. Ikan mas dari wilayah ini bahkan dikenal hingga Bekasi.
Semua itu berubah setelah limbah dari PT Kahatex membanjiri ladang sawah desa ini. “Sekarang mah airnya sudah tidak bagus,” ujar Asep. Budidaya ikan perlahan hilang. Sawah masih ada, tetapi kehilangan salah satu sumber penghidupan utamanya.
Perubahan Sungai Cikijing tidak selalu tampak di permukaan. Secara kasat mata, airnya kini terlihat lebih bersih. Namun bagi warga, kondisi itu menipu. “Jernihnya mah jernih buatan,” kata Asep. Ia menilai, kejernihan itu hanya di permukaan, sementara kualitas air sebenarnya telah berubah. “Secara mineralnya mah sudah tidak ada.” sahutnya.
Dampaknya terasa langsung. Air sungai tidak lagi mengalir optimal. Petani harus menggunakan pompa untuk mengairi sawah mereka. Biaya bertambah, hasil berkurang. Sungai yang dulu mengalirkan kehidupan kini harus “dipaksa” agar tetap berguna.
Pendangkalan menjadi masalah lain. Menurut Asep, limbah yang mengendap membuat aliran air tersendat. “Air seminggu tidak keluar-keluar,” katanya. Kondisi ini memperparah kerusakan ekosistem sungai yang sebelumnya menjadi sumber utama pertanian dan perikanan.
Tiga Tahun Tanpa Penghidupan
Di hamparan sawah yang sama, Wandi masih terus menanam, meski kenangan masa sulit belum sepenuhnya hilang. Ia menunjuk bentangan lahan di depannya.
“Pas Kahatex, hancur. Semua,” ujarnya singkat.
Ia mengingat masa ketika sawah tidak bisa ditanami secara optimal. Selama tiga tahun, lahan yang biasanya produktif menjadi hampir tak bernilai. “Tiga tahun lah baru bisa ditanami lagi,” katanya.
Selama masa itu, ia bertahan dengan bekerja serabutan. “Modalnya ya hasil nguli deui,” ucapnya. Tak ada bantuan yang ia terima. Sementara kebutuhan hidup tetap berjalan, termasuk biaya pendidikan anak-anaknya.
Pengalaman serupa juga dialami Dadi, petani lain di wilayah tersebut. Ia mengaku kehilangan sekitar tiga kuintal hasil panen. Untuk menutup kebutuhan, ia bahkan harus meminjam uang hingga satu juta rupiah untuk biaya sekolah anak-anaknya. “Saya rugi 3 kuintal, gak diganti. Lieur modal balikna. Obat sawah juga kalah sama limbah mah,” ucapnya sambil terus mengayunkan cangkulnya, Selasa (17/3/2026).
Bukan hanya sawah yang terdampak. Sumber air bersih warga pun ikut berubah. Sumur galian yang dulu menjadi andalan kini ditinggalkan. “Sudah dikubur,” kata Asep. Air dari sumur tersebut dianggap tidak lagi layak digunakan karena terpengaruh limbah yang meresap ke tanah.
Kini warga beralih ke sumur bor atau air galon. Namun tidak semua mampu. Bagi yang tidak memiliki biaya, mereka harus bergantung pada tetangga. “Kalau minum sekarang pakai galon, bahkan untuk memasak sebagian warga tidak lagi menggunakan air sumur,” terang Wandi.
Sejalan dengan Wandi, Ketua RW 12, Caca Hardika, mengakui bahwa air sumur bor pun sering kali berwarna kekuningan dan berbau. “Dulu kan bisa langsung dipakai,” katanya. Sekarang, air yang dulu menjadi sumber kehidupan justru menjadi sumber kekhawatiran.
Wilayah tempat mereka tinggal di Babakan Jawa, Bojongloa, Rancaekek, berjarak sekitar 4,9 kilometer dari pabrik. Jarak itu tak hanya memisahkan secara geografis, tetapi juga menentukan siapa yang merasakan program dan siapa yang tidak.
CSR yang Tak Sampai ke Sawah

Seorang petani menggarap sawah di bawah terik matahari di wilayah RW 12, Babakan Jawa, Desa Bojongloa, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Di tengah perubahan kondisi lingkungan, sawah-sawah ini tetap menjadi tumpuan hidup warga. (Foto: Muhamad Seha)
Di tengah berbagai keluhan warga, PT Kahatex menolak untuk diwawancarai. Namun, melalui laman resminya, pabrik tekstil skala besar itu menyebut telah menjalankan sejumlah program tanggung jawab sosial. Mulai dari renovasi masjid, pembangunan fasilitas mandi-cuci-kakus, hingga penyediaan air bersih gratis bagi masyarakat sekitar pabrik. Perusahaan juga mengklaim memberikan bantuan produk setiap tahun, donasi kendaraan kepada pemerintah, serta dukungan penanganan Covid-19 melalui pembagian masker.
Namun, gambaran di lapangan menunjukkan cerita yang berbeda.
Di sebuah gang sempit yang padat, tak jauh dari kawasan pabrik, seorang ketua RW ditemui tengah sibuk memasak di rumahnya yang bercat putih dengan warung kecil di depan. Ia menyebut bantuan dari perusahaan masih ada, tetapi bentuknya sederhana. “Sekarang mah handuk,” ujarnya. Bantuan itu diberikan setahun sekali dan dibagikan melalui RT secara selektif, tidak merata ke seluruh warga.
Ia juga menunjuk adanya fasilitas air bersih dari perusahaan. Letaknya berada di pinggir jalan besar, tersambung ke beberapa rumah warga di sekitar titik tersebut. Namun aksesnya terbatas.
Beberapa meter dari sana, dua ibu rumah tangga yang sedang berbincang di bawah pohon rindang mengaku tidak merasakan manfaat fasilitas itu. Lokasi mereka terlalu jauh dari titik distribusi air. “Di sini mah tidak sampai,” kata salah satunya, Selasa (17/3/2026).
Ia menyebut, bantuan terakhir yang diterima hanya handuk yang dibagikan dua hari sebelumnya. “Udah, handuk hungkul,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa kebutuhan warga tidak berhenti pada bantuan simbolik. Bagi petani seperti Asep, Wandi, dan Dadi, persoalan utama justru terletak pada hilangnya sumber penghidupan. Air yang tak lagi layak, sawah yang menurun hasilnya, dan biaya hidup yang semakin bertambah.
Tanpa pemahaman yang utuh terhadap dampak tersebut, bantuan yang diberikan berisiko tidak menyentuh akar persoalan. Warga membutuhkan lebih dari sekadar distribusi barang. Mereka membutuhkan pemulihan yang nyata atas lingkungan dan penghidupan yang pernah hilang.
Di tengah sungai yang tampak kembali mengalir, pertanyaan tentang tanggung jawab itu masih menggantung. Bagi warga di Bantaran Cikijing, yang mereka harapkan bukan sekadar kehadiran program, melainkan perubahan yang benar-benar terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Tanpa upaya yang menyentuh kebutuhan tersebut, sunyinya tanggung jawab akan terus mengalir bersama sungai yang perlahan kehilangan maknanya bagi warga.
Baca tulisan menarik lainnya di Dedikasi.id!
Reporter : Muhamad Seha
Reporter : Muhamad Seha
Editor : Saffana Alfy Karomah