Menangis kini menjadi satu-satunya cara yang dapat aku lakukan di sini untuk melepaskan resah dan menerbangkan kebingunganku. Walaupun sebelumnya aku tak pernah menangis, kecuali dulu saat keluar dari rahim ibu. Saat ini, aku melakukannya, toh orang-orang juga tak menyadari kehadiranku.

Ingatan aku paksa memutar ke belakang. Mengingat peristiwa yang terjadi sebelum aku menjadi asing di tanah kelahiranku sendiri. Aku di sini kebingungan. Aku dapat melihat semua orang, tetapi semua orang seperti tak melihatku. Bahkan orang-orang mampu menembus tubuhku. Aku berteriak di depan mereka, menyilangkan tanganku, mengenalkan siapa diriku, dan terus berteriak. Tetap saja mereka tak mendengarnya. Aku semakin bingung.

Berjalan sendirian di jalanan yang sejak dulu ramai, aku mulai sedikit mendapatkan ingatanku. Aku ingat, di jalanan ini, dulu, aku bersama kekasihku pernah menikmati hujan bersama. Menerima setiap air dari langit yang membuat kami menjadi begitu kuyup. Juga ketika kekasihku meminta untuk menepikan motor di pinggir jalan, lalu memintaku untuk membelikan sebungkus nasi kucing di angkringan depan, tempat kami berhenti. Aku mulai ingat peristiwa-peristiwa kecil yang pernah aku alami.

Perlahan aku berjalan meninggalkan jalanan yang penuh kenangan itu. Aku berjalan ke arah selatan menyusuri trotoar di depan toko yang berjajar rapi. Sampailah aku di perempatan Demangan. Lalu aku duduk di depan toko helm. Mengamati orang-orang yang datang-pergi dan mendengar celotehan klakson begitu memekakkan telinga.

Aku duduk di situ, di atas bangku panjang di samping rak helm. Orang-orang di jalanan melirik ke arahku, tetapi yang terlihat di pantulan matanya bukan adanya aku, tetapi bangku yang kosong dan tumpukan helm yang berdebu. Aku melirik ke bawah, memastikan bahwa aku ada, tanganku meraba-raba menyatakan bahwa ini adalah tubuhku. Sampai saat ini, aku masih yakin bahwa aku masih ada. Sebelum seorang loper koran dengan koran pada halaman utamanya terpampang sebuah berita, sedikit mengusik rekaman ingatanku yang sedari tadi tak berfungsi dengan baik. Tertulis di sana “Demo Menuntut Reformasi Berujung Ricuh” dengan sub judul “Seorang Mahasiswa Masih Dinyatakan Hilang”.

Ingatanku sedikit berputar ke belakang. Tetapi belum sampai aku mendapatkan ingatanku tentang ‘Reformasi’, aku bertambah bingung ketika ada pria paruh baya duduk di sampingku. Mungkin ini adalah hal biasa, ketika kita duduk di suatu tempat, lalu tiba-tiba didatangi seseorang yang tak kita kenal dan satu pun kata tak keluar dari mulut kita. Tapi, ini sangat berbeda, bukan hal yang biasa aku alami ketika sedang menunggu bus di Terminal Umbulharjo sebelum menuju Bandara Adisutjipto.

Sebuah kegiatan yang rutin aku lakukan ketika libur semester dan berniat untuk pulang ke rumah di Banjarmasin. Kali ini sangat berbeda, tak hanya kata yang tak mau keluar karena sebuah rasa canggung, tetapi si pria paruh baya tadi, duduk tepat di sampingku dan anehnya ia tak sadar jika ada aku di sampingnya. Padahal tubuhnya menghimpit tubuhku. Aku menggoyangkan bahunya, tetapi tanganku tak mampu untuk menyentuhnya. Selalu meleset, bukan meleset lagi, tetapi tembus. Aku bangkit lalu tepat berada di depannya. Mataku dan matanya berada dalam satu garis lurus. Seharusnya, pun normalnya, dia melihatku. Bahkan seperti yang aku katakan tadi, tak ada bayanganku di dalam matanya. Aku menyerah. Aku duduk kembali, kemudian menatap ramainya perempatan Demangan.

Aku putuskan untuk kembali berjalan ke arah utara. Setiap sudut pertokoan aku lihat dengan dalam, barangkali ada ingatanku yang tersangkut di sana. Tetapi nihil. Aku berjalan lagi, lalu sampai pada sebuah pertigaan yang sedikit mengusik ingatanku. Sepertinya beberapa hari yang lalu, tak lama sebelum aku kebingungan seperti sekarang, aku berada di pertigaan ini. Aku berdiri menatap sekeliling, mencari ingatanku yang barangkali tertinggal di sini.

Lalu di warung makan yang sepi, di sebelah utara pertigaan, aku mencuri dengar percakapan si pemilik warung yang kebetulan suaranya keras hingga aku dapat mendengarnya dari sini. Kata si pemilik warung, dua hari yang lalu terjadi demo dan kerusuhan di sepanjang jalan ini. Katanya lagi, banyak mahasiswa yang ditangkap intel. Aparat membabi buta menembaki massa dengan mobil water canon yang pertama kali digunakan di Yogyakarta untuk membubarkan massa aksi yang ngeyel.

Aku mendengarnya dengan saksama. Pelan-pelan ingatanku berdatangan. Aku sedikit ingat, sepertinya dua hari yang lalu aku berada di sepanjang jalan ini bersama kawan-kawanku yang lain. Tetapi kenapa sekarang aku bisa seperti sekarang? Bingung, benar-benar kebingungan. Apakah yang terjadi kepadaku?

Pemilik warung yang ceritanya aku curi, bercerita lagi kalau ada satu mahasiswa yang masih hilang dan belum ditemukan. Kabarnya ia diculik saat hendak mengamankan diri masuk ke dalam Universitas Sanata Dharma. Surat kabar lokal hingga nasional beramai-ramai memberitakan kabar kehilangannya. Rezim yang sudah berkuasa sangat lama ini memang suka menghilangkan paksa orang yang menentang cara dia memerintah. Mahasiswa, seniman, dan rakyat yang hendak menyuarakan pendapatnya kerap mendapat ancaman.

Setelah mendengarkan, lebih tepatnya mencuri dengar, cerita dari pemilik warung itu, aku sedikit mendapatkan kembali ingatanku. Ingatanku yang kembali adalah peristiwa setelah aku bersama kawan-kawanku berorasi, meneriakkan yel-yel ‘Rakyat Bersatu Tak Bisa Dikalahkan!’, hingga ‘Turunkan Soeharto!’, polisi dan tentara datang meminta kepada kami untuk menyudahi aksi itu. Tetapi kami ngotot, kami akan menyudahi aksi ini jika Soeharto turun dari jabatannya. Lalu setelah itu, polisi mundur beberapa langkah. Tiba-tiba mobil water canon datang dan menyemprotkan airnya kepada kami. Tentu saja barisan kami buyar, bubar tak karuan. Ada yang berlari masuk ke dalam kampus, ada yang lari ke selatan, ada yang membalas semprotan air tadi dengan batu. Pokoknya suasana berubah menjadi chaos. Sore itu kekacauan dan kerusuhan tak terelakkan di Jalan Affandi.

Ingatanku hanya sampai kepada kejadian chaos itu. Hingga seseorang di depan pemilik warung tadi, ikut nimbrung bercerita dengan membawa sebuah foto seorang mahasiswa laki-laki yang diberitakan hilang. Aku penasaran. Aku lalu berjalan memasuki warung, tentunya pemilik warung dan beberapa pembelinya itu sekarang jadi pendengar cerita orang itu, tak melihatku. Aku manfaatkan kesempatan ini untuk mendekat dan melihat seorang mahasiswa yang dikabarkan hilang di foto itu.

Dari pintu warung, aku dapat melihat foto yang dibawa seseorang tadi. Kelihatannya seperti aku, lelaki berdarah Kalimantan yang tengah mencari ilmu di kota pelajar. Aku mendekat agar dapat melihat foto itu lebih jelas. Aku leluasa masuk dan melesak di antara pembeli yang mendengarkan si pemilik warung yang bercerita karena mereka—sepertinya—tak melihatku.

Benar saja. Seseorang di dalam kertas foto itu adalah aku. Aku ingat, itu fotoku dua tahun lalu saat mendaki ke gunung Merapi. Aku lalu keluar dari warung. Duduk di trotoar. Beberapa menit aku terdiam. Aku tak percaya bahwa aku adalah orang yang sedang menjadi bahan perbincangan pemilik warung dan para pembelinya itu, dan mungkin seluruh negeri juga sedang membicarakanku.

Aku putuskan untuk kembali menyusuri Jalan Affandi menuju ke arah utara. Aku lihat Merapi sedang gagah-gagahnya. Sepertinya Merapi sedang melihat kebingunganku dan berusaha untuk menghiburku. Jangan bersedih, ada aku yang siap menghiburmu, mungkin ini kalimat dari Merapi jika ia dapat berbicara. Kurang lebih satu kilometer aku berjalan sebagai ruh tanpa raga, aku berhenti di depan warung kopi yang saat itu berkumpul beberapa mahasiwa. Sepertinya mereka sedang berdiskusi, terlihat wajah yang serius, dan beberapa fotokopian buku kiri di meja mereka. Aku mendekat lagi, seperti di warung sebelah pertigaan tadi, aku masuk dan berkumpul dengan mereka, tentu tanpa mereka menyadarinya.

Mereka sedang membicarakan seorang mahasiswa yang ikut dalam aksi di Jalan Affandi. “Dia hilang diculik, rezim gendeng!” kata salah seorang mereka di tengah obrolan.

“Huss, jangan bicara macam-macam. Kita ini baru saja bebas dari kejaran intel. Sekarang malah mau bunuh diri lagi. Sudah enak ini kita berkumpul tak dibubarkan!” timpal seorang lain dengan nada agak ketakutan.

Aku dengarkan setiap obrolan mereka dengan saksama. Hingga ketika mereka bercerita tentang keluarga, aku tertunduk. Tiba-tiba aku bersedih. Aku ingat keluargaku. Bagaimana keadaan mereka? Apakah mereka mencariku? Yang paling mungkin, mereka sedang bersedih, terlebih ibuku. Pasti sekarang ia tak berhenti memikirkanku, anak semata wayangnya yang pamit pergi ke Jogja untuk mencari ilmu. Tetapi, sekarang keadaannya tak jelas. Kabarnya kabur. Posisinya tak diketahui siapapun, kecuali rombongan tentara yang menangkapnya dan menyembunyikannya jauh dari dunia nyata.

Aku baru sadar bahwa ingatanku sudah kembali seperti semula. Ternyata dengan mengingat keluarga, ingatanku kembali. Kesempatan ini aku gunakan untuk kembali ke pertigaan Jalan Affandi. Aku meraba-raba posisiku saat aksi. Aku ingat, sebelum aku menjadi seperti ini, gaib dan tak seorang pun tahu. Saat itu, setelah suasana menjadi kacau, aku lari ke selatan menuju gerbang kampus Sanata Dharma. Tetapi belum sempat kakiku melangkah masuk kampus, pandanganku menjadi gelap. Badanku serasa digotong orang dengan badan kekar. Aku melawan, menggerakkan tanganku agar si orang ini—yang menangkapku—melepaskan dekapannya dan membuka penutup kepala yang tak jelas apa itu.

Tetapi hanya sia-sia yang kudapat. Dia terus menggotongku ke tempat yang tak aku tahu di mana. Sepanjang perjalanan sepertinya menggunakan mobil Jeep, aku hanya dapat melihat kegelapan, mendengarkan deru mesin dan suara tembakan. Akhirnya mobil berhenti di tempat yang sunyi. Di sini hanya ada suara burung, daun yang digesek angin, dan tentunya suara bising dari orang-orang tak jelas tadi. Dari suara langkahnya, aku tebak mereka adalah aparat, khas suara sepatunya.

Dari cara bicara mereka, juga menandakan bahwa mereka dari pihak aparat. Tetapi aku tak bisa menebak, mereka dari polisi atau tentara. Di tempat yang misterius itu, aku masih dengan kain hitam yang menutup semua kepalaku. Tanganku diikat ke belakang, dan mulutku disumpal kain bau.

“Ini akibat dari melawan pemerintah! Dasar pengkhianat! Mahasiswa itu tugasnya belajar, bukan demo gak jelas seperti itu!” ucap salah seorang dari mereka sembari menendang perutku. Aku terpelanting ke belakang. Lalu mencoba berdiri. Sebelum aku dapat berdiri dengan tegak, tanganku sudah ditarik dengan keras oleh tangan kekar lengkap dengan gertakan.

“Cepat berdiri! Jangan lelet. Beberapa jam lagi kau akan menemui ajalmu. Ha ha ha.”

Aku berdiri dengan rasa sakit yang menyelimuti perut dan rasa takut yang menyelubungi pikiran. Jika yang dikatakan pria itu benar, artinya umurku tinggal beberapa jam lagi. Tak ada apapun yang aku pikirkan kecuali bagaimana caranya kabur dengan membawa nyawaku agar tak dia akhiri. Dia, pria tak jelas itu beserta gerombolannya yang aku kisar sekitar sepuluh orang, tak boleh menjadi malaikat pencabut nyawa. Tahu apa mereka tentang kematian. Kalau mereka sendiri tak punya kemerdekaan dan kebebasannya dilacurkan kepada rezim dengan dalih “kesetiaan prajurit”.

Dengan logika sekalipun, aku tak akan bisa kabur dan lepas dari mereka. Tetapi aku tetap berusaha untuk lepas dan meninggalkan orang-orang tak berperikemanusiaan itu. Aku coba menggerak-gerakkan tanganku agar tali yang mengikat tanganku ini terlepas. Bukannya terlepas dan membebaskan dua tanganku menjadi merdeka, malah tendangan dan makian yang aku dapatkan.

“Mau sampai kapan pun, tali itu tak akan terlepas. Mau kau menangis, berteriak, atau memaki kami, tali itu tak akan terlepas,” suara sinis oleh salah seorang dari mereka yang disusul satu tendangan lagi pada perutku.

Sebenarnya mereka itu orang atau apa? Kok tak tahu apa itu kemanusiaan. Aku ini manusia, bukan hewan. Tak sepantasnya di siksa seperti sekarang. Apa hanya karena mengkritik rezim yang melanggengkan korupsi dengan segala propagandanya. Pula media yang sudah mereka sunat menjadikan aku pantas mendapatkan ini? Hah? Gerutuku dalam hati, tentunya. Berani bergerutu dengan terang-terangan, sama saja aku memberikan nyawaku dengan cuma-cuma kepada mereka.

Siksaan aku terima bertubi-tubi. Aku mengerang kesakitan, mereka tertawa macam tak punya dosa. Setelah bermacam-macam siksaan aku terima, aku digiring maju entah ke mana. Pandanganku masih gelap. Tetapi, kira-kira sekarang aku sudah sampai pada suatu ruangan. Lalu aku didudukkan pada sebuah kursi.

“Sudahi saja protesmu itu, jangan melawan pemerintah!” ucap salah satu dari mereka lagi, bedanya, kali ini tampaknya dia mendekatkan wajahnya tepat di depanku. Aku memalingkan wajah ke samping. Walaupun aku tak bisa melihat wajahnya, aku pun juga tak sudi jika harus menghirup racun yang keluar dari mulutnya itu.

“Pemerintah sudah baik, mau melakukan pembangunan dimana-mana kok masih saja kau protes!” seorang lain berkata dari kejauhan.

Sebelum aku mengambil napas dan membalas semua perkataan mereka, tiba-tiba aku sudah berada di pertigaan Jalan Affandi. Aku kebingungan. Aku dapat merasakan semua orang, tetapi semua orang tak merasakan kehadiranku. Aku merasa aneh.

Sepertinya ini bukan aku. Jika benar ini adalah aku, semua orang yang lewat akan menyapaku. Tetapi tidak. Mereka bahkan tak menggubris kelinglunganku di sini. Apakah ini hanya ruhku saja yang terlempar ke sini, di pertigaan Jalan Affandi? Sedangkan ragaku, hilang bersama mobil jeep misterius itu? Ragaku bahkan masih dicari-cari semua orang. Aktivis, Lembaga Bantuan Hukum, jurnalis, dan semua orang yang peduli sedang bersama mencari keberadaanku yang disembunyikan rezim.

Tetapi, namaku suatu waktu akan abadi di sini, di Jalan Affandi. Atau akan menjadi nama jalan di dekat kampusku, Sanata Dharma.

Baca juga tulisan menarik terkait Cerpen lainnya di dedikasi.id

Penulis: Achmad Syafi’i