dedikasi.id – Kasus Kekerasan terhadap Nurhadi sudah bergulir selama 1 bulan lebih dan polisi masih belum menentukan tersangkanya. Hal tersebut memantik Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kediri untuk mengadakan dukungan berupa solidaritas bertajuk “1000 puisi untuk Nurhadi” pada Minggu (2/5) di Warung Budoyo Jawi.

Ketua AJI Kediri, Danu Sukendro dalam orasinya menyatakan bahwa Malam Puisi ini merupakan serangkaian acara dalam memperingati hari pers sedunia yang jatuh pada 3 Mei. Selain itu, kegiatan ini juga sebagai bentuk desakan kepada aparat untuk segera mengusut tuntas kasus kekerasan terhadap Jurnalis Tempo, Nurhadi.

Ia merasakan kekhawatiran akan kasus kekerasan pada jurnalis dan pers akan membungkam demokrasi. Dengan diadakannya acara 1000 puisi untuk nurhadi diharapkan mampu mengingatkan pentingnya fungsi jurnalis dan keberadaannya dalam masyarakat yang dilindungi undang-undang.
“Dalam momentum Hari Kebebasan Pers Dunia, kami mengajak seluruh elemen terutama pers untuk bersama-sama menyuarakan kebenaran,” ujarnya dalam orasi.

Hadir dalam acara berbagai elemen masyarakat, mulai dari jurnalis, mahasiswa, aktivis literasi Taman Baca Masyarakat, teater dan juga pegiat budaya. Mereka datang dari seluruh penjuru karesidenan Kediri.

Pembacaan puisi dilakukan secara virtual dan langsung. Pembacaan puisi secara daring dikirim oleh AJI Indonesia, AJI Surabaya dan AJI Yogyakarta. Video yang terkumpul diputar dan ditampilkan di depan khalayak yang hadir.

“Pembacaan puisi juga melalui video dari AJI yang memberikan support,” tutur Rino Hayyu Setyo, salah satu anggota AJI Kediri.

Selanjutnya, para hadirin satu per satu ikut tampil dalam panggung membacakan puisi. Puisi yang dibacakan berisi kritik sosial, keadaan sosial masyarakat, kebebasan berpendapat dan keadilan untuk yang benar.

Turut hadir juga komunitas sastrawan dari Tulungagung yang ikut meramaikan acara. Mereka mendukung dengan pembacaan puisi. Hadi, salah satu anggota komunitas juga mengapresiasi acara tersebut serta mengajak untuk melesetarikan pembacaan puisi.

“Kami datang dari Tulungagung sangat mengapresiasi acara ini dan kami juga menyambut temen-temen jika ada yang ke Tulungagung,” tuturnya setelah pembacaan puisi.

Selain pembacaan puisi juga ada penampilan musik dari Iwan Tualang dan kawan-kawan. Nyanyian diiringi petikan gitar dan tarian teatrikal dari salah satu hadirin dengan memakai topeng.

Saiful Amin, mahasiwa Universitas Islam Kadiri (UNISKA) dalam puisinya juga berharap jika perjuangan tak hanya berupa pembacaan puisi namun juga dibarengi dengan tindakan nyata.
“Tak pantas berlama-lama puisi, turun-turun marilah berperang,” ujarnya di akhir puisi.

Baca juga terkait Berita dan tulisan menarik lainnya di dedikasi.id

Reporter: Eko
Penulis: Eko
Editor: Firnas