Apa sih yang terlintas dibenak kalian tentang “cantik”? Pasti sebagian besar dari kita berpendapat bahwa cantik itu yang putih, mulus, mancung, tinggi, langsing, matanya besar, wes pokoknya yang body goals, lah, mirip “bihun”. Banyak perempuan yang masuk dalam lingkaran setan standar kecantikan tersebut. Bahkan seakan sudah menjadi sebuah stereotip di masyarakat. Ironis sekali. Sebuah survei yang dilakukan oleh ZAP Beauty Index pada tahun 2018 menunjukkan bahwa 73.1% perempuan Indonesia berpendapat bahwa cantik itu glowing, bersih, dan cerah.

Apakah pernah terpikirkan di benak kalian dari mana datangnya standar tersebut? Konsep standar kecantikan ini tidak datang dengan sendirinya ataupun turun dari langit. Apa yang kita anggap sebagai “cantik” sebenarnya telah dikonstruksikan oleh pihak-pihak yang memiliki kekuasaan untuk mengontrol dan mendefinisikan peran perempuan. Standar kecantikan yang disebarkan dan menjadi sebuah stereotip tidak lepas dari peran media sebagai penyalur sebuah informasi.

Gita Savitri mengatakan bahwa tren kecantikan telah berubah dan banyak perempuan berlomba untuk mencapainya. Media menjadi penggerak perubahan tren kecantikan ini dengan menampilkan sosok “cantik paripurna” pada iklan maupun konten hiburan lainnya. Tentunya kita tidak asing dengan pelaku hiburan nan cantik, tinggi, langsing, putih wara-wiri di layar kaca. Hal ini merupakan standar “ga ngotak” dan tidak memanusiakan kebanyakan perempuan.

Representasi kecantikan perempuan di media Indonesia semakin lama semakin jauh dari kebanyakan orang. Saat ini media membingkai kecantikan wanita bahwa mereka yang cantik adalah yang semakin putih dan mancung layaknya bule. Bukan hanya pada iklan maupun konten hiburan, namun juga pemberitaan. Perempuan profesional kurang mendapat porsi di media. Kalaupun masuk dalam media, bukan kinerjanya yang dinilai melainkan penampilan dan kecantikannya.

Sebut saja berita Nara Masista, seorang diplomat perempuan yang menyampaikan gagasannya tentang Papua di sidang PBB. Media jor-joran meliputnya bukan karena gagasan yang dibawakan, melainkan kecantikan, penampilan, dan umurnya yang masih muda. Bukan hanya pejabat publik, bahkan rakyat biasapun tak lepas dari sorotan media seperti ini. Ingatkah dengan mbak-mbak mahasiswa yang ikut turun ke jalan menolak Omnibus Law sambil bawa toa merah? Banyak media yang juga meliput bukan karena aksi ataupun substansinya, namun justru penampilannya yang jadi pembahasan. Hal yang seperti ini semakin melanggengkan praktik standar kecantikan buatan media pada khalayak. Bahkan seolah menjadikan perempuan sebagai objek visual dan “bahan hiburan” dengan mengesampingkan aspirasinya.

Baca juga Bibit-Bibit Oligarki di Kampus

Bukan hanya media massa, media sosial pun turut memperkeruh stereotip ini. Banyak beauty influencer, seleb tiktok, hingga selebgram yang semakin diikuti. Bukan menolak atau melarang, namun saat ini, semakin banyak mengikuti akun-akun seleb sosmed justru membuat kita semakin insecure karena terlalu berusaha mengikuti standar mereka dan terus membandingkan diri kita dengannya. Alih-alih menjadikannya sebagai role model, kita justru terjerembab dalam lubang standar kecantikan layar kaca–layar gadget juga. Tidak bisa dipungkiri, media menjadi penyumbang terbesar faktor pembentukan standar kecantikan perempuan. Namun, apakah cantik hanya dinilai dari fisik?

Hai, girls! Kalian tidak harus mengikuti segala macam standar kecantikan ala media karena media hanya bisa membentuk standar kecantikan fisik. Sedangkan, standar kecantikan yang sesungguhnya ada dalam hati kalian masing-masing dan terwujud dengan tingkah laku serta kualitas diri. Kalian semua cantik. Kalian semua berharga terlepas dari standar kecantikan media. Kalau kata Yura Yunita, sih, “Aku tak sempurna, tak perlu sempurna, akan kurayakan apa adanya, tutur batinku tak akan salah, silakan pergi ku tak rasa kalah.”

Penulis : Nurfudiniyah

Editor : Finda

Ilustrator : Hameida