(DEDIKASI.ID) – Ruang kreatif lintas komunitas hadir melalui kegiatan Urban Decay yang digelar di Taman Brantas, Kediri. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 14.00 WIB tersebut mempertemukan berbagai komunitas melalui pertunjukan musik, aktivitas kreatif, literasi, hingga kegiatan sosial.
Menariknya, pengunjung tidak dikenakan tiket masuk berupa uang. Sebagai gantinya, mereka dapat membawa sembako, makanan, atau buku bekas sebagai bentuk kontribusi. Konsep tersebut menjadi bagian dari upaya penyelenggara membangun semangat berbagi dan kepedulian sosial.
Kiki, salah satu pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan, mengatakan Urban Decay digagas secara kolektif oleh orang-orang dari berbagai latar komunitas. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak berada di bawah satu komunitas tertentu, melainkan dihimpun melalui sebuah kolektif yang untuk sementara menggunakan nama Sundaychildhood.
“Intinya ini adalah inklusif, jadi terdiri dari banyak orang,” ujar Kiki.
Ia menjelaskan, orang-orang yang terlibat berasal dari beragam latar, mulai dari skena skinhead dan underground, hip-hop, hardcore, skateboard, hingga komunitas sepeda. Keberagaman tersebut menjadi salah satu dasar penyelenggaraan Urban Decay sebagai ruang pertemuan dan ekspresi bersama.
Rangkaian kegiatan tidak hanya berfokus pada pertunjukan musik. Sejak siang, pengunjung dapat mengikuti permainan tradisional, pasar gratis, pop-up market, hingga kegiatan sablon pakaian. Memasuki sore hingga malam, acara dilanjutkan dengan sejumlah penampilan musik, termasuk hip-hop dan band beraliran hardcore.
Ruang literasi juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan. Nasyiatul Aisyiyah turut membuka pojok literasi dan mengadakan diskusi buku bersama pengunjung. Anisa, salah satu perwakilan Nasyiatul Aisyiyah, mengatakan diskusi tersebut mengangkat buku yang paling berkesan bagi masing-masing peserta.
“Buku bacaan yang paling berkesan. Kita mungkin punya banyak buku bacaan yang kita sukai, tapi satu hal yang paling berkesan dan punya makna yang dalam buat hidup kita,” jelas Anisa.
Dalam diskusi tersebut, peserta tidak hanya membicarakan isi buku, tetapi juga berbagi nilai dan pengalaman yang diperoleh dari bacaan masing-masing. Kehadiran pojok literasi memperluas fungsi Urban Decay sebagai ruang bertukar gagasan, tidak hanya sebagai tempat pertunjukan.
Kegiatan ini juga membuka ruang kolaborasi antarkomunitas. Pojok literasi yang dibuka Nasyiatul Aisyiyah, misalnya, turut berkolaborasi dengan teman-teman Sundaychildhood. Keterlibatan berbagai pihak membuat Urban Decay menjadi ruang pertemuan bagi individu dengan latar belakang yang beragam.
Menurut Kiki, ruang kreatif semacam Urban Decay penting karena keberadaannya masih terbatas. Ia mengatakan kegiatan tersebut merupakan upaya teman-teman dari berbagai komunitas untuk menciptakan ruang kreatif secara mandiri.
“Ini adalah ruang-ruang kreatif yang memang sengaja dibentuk teman-teman untuk memberi ruang-ruang kreatif yang selama ini jarang sekali ada,” ungkapnya.
Konsep berbagi juga terlihat dari mekanisme masuk acara. Sembako, makanan, atau buku bekas yang dibawa pengunjung tidak sekadar menjadi pengganti tiket, tetapi diarahkan sebagai bentuk kepedulian dan upaya saling membantu di lingkungan sekitar.
Kiki berharap kegiatan serupa dapat terus berlangsung dan berkembang pada masa mendatang. Ia mengatakan keberadaan Urban Decay diharapkan tidak hanya memberikan ruang berekspresi bagi pelaku komunitas, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.
“Harapannya seperti itu. Kita pengin apa yang kita perbuat bermanfaat untuk sekitar,” tuturnya.
Dengan mempertemukan musik, komunitas, literasi, aktivitas kreatif, dan kepedulian sosial, Urban Decay menjadi wadah bagi berbagai kelompok untuk bertemu dan berkolaborasi. Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa ruang kreatif dapat dibangun secara kolektif dengan melibatkan masyarakat dari latar belakang yang beragam.
Baca tulisan menarik lainnya di Dedikasi.id!
Reporter: Sabrina Aysatul Arshaa
Penulis: Sabrina Aysatul Arshaa
Editor: Saffana Alfy