(DEDIKASI.ID) – Berdiri sejak 1936, Gereja Santa Maria Puhsarang di Desa Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, menyimpan jejak pertemuan antara tradisi Katolik dan kearifan lokal Jawa. Keunikan bangunannya tidak hanya terletak pada bentuk arsitektur yang berbeda dari gereja pada umumnya, tetapi juga pada upaya mengadaptasi unsur budaya setempat dalam pembangunan rumah ibadah. Hampir sembilan dekade sejak didirikan, gereja ini tetap menjadi tempat peribadatan umat Katolik sekaligus bagian dari warisan sejarah yang perlu dijaga keberlangsungannya.
Sekretaris Santuarium Santa Maria Immaculata Puhsarang, Yohannes Sucipto, menjelaskan bahwa pembangunan gereja diprakarsai oleh misionaris Katolik asal Belanda, Romo Henrikus Wolters CM. Sementara itu, perancangan bangunannya dipercayakan kepada arsitek Henri Maclaine Pont, yang dikenal memiliki perhatian terhadap arsitektur dan peninggalan sejarah Nusantara. Menurut Yohannes, lokasi pembangunan gereja semula direncanakan berada di tempat lain sebelum dipindahkan ke Puhsarang. Pada saat itu, kawasan tersebut telah dihuni masyarakat, meskipun kondisi lingkungan masih tergolong pelosok dengan akses yang sulit dan bentang alam yang didominasi batu-batu besar.
Gereja tersebut diberkati pada 8 Juli 1936. Yohannes menerangkan bahwa nama Santa Maria yang digunakan merupakan bentuk penghormatan kepada Bunda Maria sebagai pelindung gereja, bukan nama yang diambil dari sejarah Desa Puhsarang. Penamaan tersebut memiliki makna keagamaan tersendiri bagi umat Katolik. Di sisi lain, keberadaan gereja di kawasan yang telah memiliki permukiman memperlihatkan bahwa bangunan ini berkembang di tengah kehidupan masyarakat setempat, bukan berdiri di kawasan yang sepenuhnya terpisah dari aktivitas penduduk.
Keunikan Gereja Santa Maria Puhsarang terutama terlihat dari pendekatan arsitektur yang memadukan fungsi rumah ibadah Katolik dengan unsur budaya Jawa. Yohannes menjelaskan bahwa Henri Maclaine Pont merancang bangunan tersebut dengan memperhatikan karakter arsitektur lokal, termasuk bentuk atap, struktur bangunan, dan penggunaan material dari lingkungan sekitar. Pendekatan ini membuat gereja memiliki karakter visual yang berbeda dari bangunan gereja bergaya Eropa yang banyak dijumpai. Unsur lokal tidak sekadar menjadi hiasan, tetapi turut membentuk identitas bangunan, sehingga gereja tersebut dapat dipahami sebagai ruang perjumpaan antara tradisi keagamaan yang datang dari luar dan kebudayaan yang telah berkembang di Jawa.
Salah satu bagian yang menarik perhatian adalah konstruksi atap gereja. Menurut Yohannes, struktur awalnya menggunakan susunan besi dengan sambungan berbentuk cincin, yang memungkinkan konstruksi memiliki kelenturan ketika mengalami gempa . Bentuk atapnya juga memiliki karakter tersendiri, termasuk penggunaan genteng khusus yang menurut penjelasannya terinspirasi dari susunan bambu yang dibelah. Detail tersebut menunjukkan bahwa rancangan bangunan tidak hanya mempertimbangkan penampilan, tetapi juga memiliki pertimbangan teknis. Meski demikian, struktur bangunan mengalami perubahan dalam perjalanan sejarahnya, termasuk penggantian sejumlah bagian kayu dan penyesuaian konstruksi atap.Perubahan tersebut menjadi bagian dari perjalanan pemeliharaan gereja selama puluhan tahun. Yohannes menyebutkan bahwa renovasi telah dilakukan beberapa kali, dengan salah satu renovasi besar berlangsung sekitar tahun 2000 karena kondisi bangunan yang mengalami kerusakan. Dalam proses pemeliharaan itu, terdapat penyesuaian material dan konstruksi, sementara karakter bangunan tetap menjadi perhatian. Pengalaman tersebut memperlihatkan tantangan yang dihadapi dalam merawat bangunan bersejarah: kebutuhan untuk menjaga keamanan dan kelayakan bangunan harus berjalan beriringan dengan upaya mempertahankan bentuk serta nilai arsitektur yang diwariskan oleh pendahulunya.
Pentingnya mempertahankan karakter bangunan semakin besar setelah Gereja Santa Maria Puhsarang ditetapkan sebagai cagar budaya, sebagaimana disampaikan Yohannes dalam wawancara. Status tersebut menempatkan pelestarian sebagai aspek penting dalam pengelolaan bangunan, sebab perubahan terhadap objek cagar budaya harus memperhatikan ketentuan yang berlaku. Yohannes menegaskan bahwa warisan yang telah dibangun oleh generasi sebelumnya perlu terus dirawat agar tidak kehilangan nilai sejarahnya. Dalam praktiknya, pemeliharaan gereja juga melibatkan umat setempat dan dukungan dari pihak-pihak yang memiliki kepedulian terhadap keberadaan bangunan tersebut. Dengan demikian, pelestarian tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik bangunan, tetapi juga membutuhkan partisipasi bersama untuk menjaga keberlanjutannya.
Kini, Gereja Santa Maria Puhsarang menjadi bagian dari kawasan Santuarium Santa Maria Immaculata Puhsarang. Menurut Yohannes, kawasan peziarahan tersebut secara resmi menggunakan nama santuarium sejak 8 Desember 2025. Kawasan ini mencakup gereja lama dan sejumlah fasilitas yang mendukung kegiatan doa serta peziarahan umat. Salah satu kegiatan yang menjadi ciri khasnya ialah Misa Malam Jumat Legi, yang menurut Yohannes dapat menarik ribuan umat untuk datang, bahkan mencapai sedikitnya 3.000 orang pada pelaksanaan tertentu. Aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa Puhsarang tidak hanya memiliki arti sebagai peninggalan arsitektur, tetapi juga tetap hidup melalui praktik keagamaan yang berlangsung hingga sekarang.
Keberadaan Gereja Santa Maria Puhsarang menunjukkan bahwa pelestarian warisan sejarah tidak cukup dilakukan dengan mempertahankan bangunan secara fisik. Nilai yang terkandung di dalamnya, mulai dari sejarah pendirian, pilihan arsitektur, penggunaan unsur budaya lokal, hingga peran gereja dalam kehidupan umat, juga perlu dipahami dan diteruskan kepada generasi berikutnya. Di tengah perubahan zaman, gereja ini menjadi pengingat bahwa bangunan bersejarah dapat tetap menjalankan fungsi sosial dan keagamaannya sekaligus menyimpan pengetahuan mengenai perjalanan budaya masyarakat. Merawat Gereja Santa Maria Puhsarang, karena itu, berarti menjaga bukan hanya sebuah bangunan, melainkan juga jejak pertemuan budaya yang membentuk identitasnya.
Baca tulisan menarik lainnya di Dedikasi.id!
Reporter: Intan Hazal Mana Arrifky, Hasnaa’ Qothrunnada, Siti Kholifah
Penulis: Devina Ardinanti, Ersyang Karunia Akbar
Editor: Saffana Alfy Karomah, Nur Laili Maghfiroh
*Berita ini merupakan hasil dari Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD) 2026