diharapkan nantinya akan menjamur aksi-aksi ini. Dan pastinya ngga hanya merawat ingatan, ada tuntutannya tapi ngga spesifikasi langsung,

Aktivis Kamisan

(DEDIKASI.ID) – Dua tahun sudah usia Aksi Kamisan Kediri. Untuk memperingatinya, Aksi Kamisan Kediri menggelar Nonton Bareng (Nobar) dan Sharing film Demi Nama Baik Kampus yang diproduksi oleh Kemendikbudristek pada tahun 2021. Mengangkat tema “Kolektif Perempuan Rebut Ruang Aman”, kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis (17/03) di Warung Kopi Maspu Kulon, Mojoroto, Kota Kediri.

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 15.00-21.30 WIB ini berjalan meriah. Pembukaan diawali dengan nyanyian lagu Indonesia Raya dan dilanjutkan dengan mimbar bebas yang diisi berbagai macam tampilan, seperti pertunjukan seni, musikalisasi puisi, dan juga akustik.

Foto: Penampilan musik di sela acara.
Foto: Penampilan puisi oleh salah satu peserta.

Peserta yang hadir berjumlah sekitar 60 orang berasal dari berbagai komunitas dan organisasi, seperti Tualang Buku, Riant Daffa, Pemuda Progresif (PEM-PROF), Jombang Bergerak, Suar,dan Afiliasi Sekartaji.

Usai tampilan-tampilan di mimbar bebas, kegiatan memasuki agenda utama yakni penayangan film Demi Nama Baik Kampus yang dimulai selepas Isya. Film pendek berdurasi 32 menit 16 detik ini bercerita tentang tokoh Sinta yang mengalami kekerasan seksual oleh dosen pembimbingnya, Arie. Karena hal tersebut, Sinta mengalami trauma dan sempat mengurung diri. Ditemani sahabatnya, Abi, Sinta melaporkan kasus tersebut ke pihak rektorat, namun pihak rektor malah menuduh Sinta hanya memfitnah Arie. Sinta dipaksa menandatangani surat pencabutan laporan dan memohon maaf kepada Arie dengan alasan menjaga nama baik kampus. Singkat cerita, dengan dibantu Satgas penanganan kekerasan seksual kampus, fakta-fakta mulai terungkap yang berujung pada pemecatan Arie dari kampus tersebut.

Setelah penayangan, beberapa peserta yang hadir bergiliran memberikan tanggapan mengenai film tersebut. Anip, salah satu peserta, berpendapat bahwa pencegahan pelecehan seksual harus dimulai dari kesadaran masing-masing individu khususnya keberanian perempuan untuk melawan. “Perempuan harus berani bersuara dan memberikan edukasi bahwa perempuan juga mempunyai ruang aman,” tegasnya.

Salah satu aktivis Kamisan, Dimas, mengatakan jika Aksi Kamisan adalah ajang untuk merawat ingatan masyarakat terhadap kasus-kasus pelanggaran kemanusiaan yang belum terselesaikan di Indonesia sampai sekarang.

“Saya lihat tujuannya untuk merawat ingatan masyarakat, sehingga diharapkan nantinya akan menjamur aksi-aksi ini. Dan pastinya ngga hanya merawat ingatan, ada tuntutannya tapi ngga spesifikasi langsung,” ujarnya kepada Dedikasi seusai acara.

Baca juga Merawat Ingatan “September Hitam” dengan Nonton Bareng

Mahasiswa program studi Sosiologi Murni UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut menuturkan bahwa ia sudah mengikuti Aksi Kamisan sejak lulus SMA. Menurutnya, Aksi Kamisan yang dilakukan di titik-titik keramaian akan membuat masyarakat sipil penasaran dan tertarik untuk mengetahui lebih dalam dan peduli terhadap kasus-kasus tersebut.

“Minimal masyarakat tahu bahwa negara kita sebagai negara hukum masih banyak impunitas yang terjadi dengan kasus-kasus HAM-nya yang sampai saat ini belum terselesaikan. Diharapkan masyarakat akan sadar tentang hal itu,” terangnya.

Dimas berharap, di usianya yang ke-2 tahun ini, Aksi Kamisan Kediri harus tetap solid meskipun massanya sedikit. “Diharapkan kawan-kawan tetap berada di jalan ini, tetap kuat untuk menyuarakan suara-suara yang terpinggirkan dan membela kaum-kaum yang tertindas,” pungkasnya.

Reporter: Gilang

Penulis: Riyadus

Editor: Maulana

Fotografer: UKM FOSTER