Tulisan ini berawal dari sebuah harapan.
Harapan yang tumbuh ketika pesta demokrasi datang dan masyarakat berbondong-bondong menentukan pilihan. Saat itu, banyak orang meyakinkan dirinya pada janji, visi, dan mimpi tentang masa depan negara yang lebih baik. Sebagian percaya bahwa kehidupan akan menjadi lebih mudah, lapangan pekerjaan akan terbuka, harga kebutuhan akan lebih stabil, dan rakyat kecil akan lebih diperhatikan.
Pemilu akhirnya usai. Pemerintahan baru mulai berjalan. Rakyat yang sebelumnya bersorak perlahan mulai menunggu bukti dari segala ucapan yang dulu memenuhi panggung-panggung kampanye. Namun, belum lama perjalanan dimulai, satu per satu kegelisahan mulai bermunculan.
Demonstrasi terjadi di berbagai tempat. Sebagian masyarakat turun ke jalan membawa keresahan yang mungkin dianggap kecil oleh sebagian pihak, tetapi terasa besar bagi mereka yang mengalaminya secara langsung. Belum lagi bencana alam yang datang silih berganti. Banjir bandang di berbagai wilayah merendam rumah warga, menghanyutkan harapan orang-orang kecil yang hanya ingin hidup tenang. Di tempat lain, hutan terus dibuka demi perluasan lahan industri. Pohon-pohon tumbang, tanah dibelah, dan habitat hewan perlahan hilang tanpa banyak yang benar-benar peduli.
Di tengah situasi itu, masyarakat kembali dihadapkan pada berbagai program besar yang hadir hampir bersamaan. Program bantuan makan bergizi, misalnya, yang menyerap anggaran sangat besar atas nama masa depan generasi bangsa. Kemudian muncul pula pembangunan koperasi desa dengan dana yang tidak sedikit. Sebagian masyarakat mendukung, tetapi sebagian lainnya mulai mempertanyakan.
Apakah semua ini benar-benar untuk rakyat kecil? Ataukah nantinya justru menjadi pesaing bagi warung sembako, toko kelontong, dan usaha kecil milik masyarakat sendiri? Apakah koperasi tersebut akan menjadi alat pemberdayaan desa, atau justru berubah menjadi ruang keuntungan bagi pihak-pihak tertentu?
Di saat pertanyaan-pertanyaan itu belum terjawab, nilai mata uang justru melemah. Harga kebutuhan hidup perlahan meningkat. Barang impor menjadi lebih mahal, dan bahan baku ikut melonjak. Namun, penghasilan masyarakat tidak mengalami perubahan berarti. Kelompok kecil yang bahkan tidak terlalu memahami dinamika ekonomi negara tetap harus menanggung dampaknya. Mereka tetap bekerja, tetap membayar pajak, dan tetap membeli kebutuhan hidup dengan harga yang semakin tidak masuk akal.
Sering kali, masyarakat hanya diberi kalimat yang terdengar menenangkan: bahwa semua ini adalah pengorbanan demi masa depan. Bahwa rakyat hanya perlu bersabar sedikit lebih lama. Namun, bagi sebagian orang, “sedikit lebih lama” terasa sangat panjang ketika dapur mulai sulit mengepul dan masa depan semakin kabur.
Tulisan ini bukanlah ungkapan kebencian. Ini adalah suara kecil dari seorang anak bangsa yang merasa cemas melihat keadaan negaranya sendiri. Sebab mencintai negeri bukan hanya tentang memuji ketika semuanya baik-baik saja, tetapi juga berani merasa khawatir ketika keadaan mulai memburuk.
Jika memang semua yang sedang direncanakan adalah jalan menuju masa depan yang lebih baik, semoga kebaikan itu benar-benar segera dirasakan oleh rakyat. Semoga pengorbanan hari ini dibayar dengan kehidupan yang lebih layak di masa depan.
Namun, jika semua ini hanyalah permainan kepentingan, keserakahan, dan jalan menuju keuntungan pribadi segelintir pihak, maka biarlah waktu—atau pengadilan yang lebih tinggi—memberikan keadilan yang seadil-adilnya bagi semua yang terlibat.
Pada akhirnya, tulisan ini hanyalah suara dari seseorang yang merasa memiliki hak untuk bertanya dan menyuarakan kegelisahannya. Sebab setidaknya, ia masih percaya bahwa dirinya hidup di sebuah negara yang menyebut dirinya demokrasi.
Penulis : Faizza Aura N.I
Editor : Saffana Alfy
Illustrator : Maya
Karya yang Anda baca merupakan salah satu karya terpilih dalam program kerja Open Publish Karya yang diselenggarakan oleh LPM Dedikasi. Program ini menjadi wadah bagi mahasiswa UIN Syekh Wasil Kediri untuk menyalurkan kreativitas, mengembangkan kemampuan literasi, serta mempublikasikan karya kepada khalayak yang lebih luas.
Teman-teman yang ingin mempublikasikan karya juga dapat menghubungi Ketua LPM Dedikasi maupun humas, jangan lupa follow media sosial LPM Dedikasi agar tidak ketinggalan informasi, program, dan kesempatan publikasi karya berikutnya.