Segera Berganti! IAIN Kediri Akan jadi UIN Syekh Wasil
16 Desember 2023
Wisata Minggu Pagi di Tengah Kota Kediri, Taman Sekartaji
6 September 2023
Gen Z dalam Pusaran Era Society 5.0
25 April 2021
(DEDIKASI.ID) – Satu fakta manusiawi tentang keberadaan manusia adalah “manusia mempertanyakan manusia”— mempertanyakan dirinya sendiri sebagai manusia, orang lain, keberadaan dirinya di tengah banyak orang, dan relasi dirinya dengan Tuhan. Artinya, manusia senantiasa melakukan dialog dengan dirinya sendiri, dengan sesama, dan dengan Tuhan terkait keberadaan dirinya. Dengan demikian, dialog menjadi kunci peradaban keberadaan manusia.
Manusia mulai mempertanyakan dirinya sejak memiliki kesadaran diri. Dalam psikologi perkembangan, kesadaran diri tumbuh sejak usia 18 bulan, semakin meluas seiring bertambahnya usia, hingga di usia remaja kesadaran diri bertransformasi menjadi identitas diri, berkembang semakin kompleks menjadi identitas sosial dalam konteks kesadaran sosial. Demikian seterusnya, mempertanyakan dirinya sendiri berkelanjutan sampai di usia dewasa, bahkan sampai di usia lanjut. Proses panjang mempertanyakan dirinya sendiri ini, kelak akan mewujud menjadi peradaban diri sebagai makhluk individu.
Bagaimana dengan nasib peradaban manusia dalam konteks hidup bersama? Mempertanyakan keberadaan manusia bersuku, berbangsa, bernegara, bahkan berglobal adalah kunci peradaban. Peradaban ini tumbuh dari sebuah kesadaran bahwa hidup di dunia mensyaratkan berbagi dunia dengan sesama manusia. Bahwa orang lain, suku, bangsa, dan negara juga membutuhkan eksistensi, sebab, kesemuanya memiliki realitas. Di titik ini, dunia adalah tempat tinggal bersama, perlu berbagi dunia dengan sesama manusia di luar diri dan kelompoknya. Dunia sebagai tempat tinggal bersama dengan demikian adalah gelanggang dialog antarmanusia—suku, bangsa, dan negara.
Secara sederhana, proses mempertanyakan keberadaan diri, mempertanyakan eksistensi identitas diri, sosial, suku, bangsa, dan negara tersebut adalah isi buku Kita dan Mereka perjalanan menelusuri akar identitas dan konflik manusia karya Agustinus Wibowo, sebuah buku terbitan Mizan pada tahun 2024. Agustinus, sebagai generasi ketiga keturunan Tionghoa yang lahir dan besar di Indonesia, mengalami masa kanak-kanak di era Orde Baru, era dimana masyarakat Indonesia belum mengakui keberadaan etnis Tionghoa. Agustinus mengalami stigma dan diskriminasi dari teman-teman sekolah dan gurunya.
Di era itu, dualisme identitas dalam diri seseorang sangat mengganggu keberadaan diri. Demikian yang dialami oleh Agustinus, antara menjadi Tionghoa dan menjadi Indonesia, atau pilihan mencintai negeri leluhur atau bersetia kepada tanah air Indonesia adalah pilihan pelik dilematis yang mengganggu psikologis. Maka muncul pertanyaan mendasar eksistensial pada dirinya, Siapa aku?
Dari Peradaban Tembok ke Peradaban “Kita”
Bab pertama, Agustinus menguraikan hasil penghayatannya tentang sebuah peradaban manusia dalam kotak-kotak perbedaan dengan membangun tembok. Tembok-tembok besar yang dibangun oleh bangsa atau negara-negara di dunia adalah capaian peradaban. Sebuah peradaban yang lahir dari budaya tembok—tembok di otak manusia.
Pembangunan tembok berhubungan dengan rasa takut, demikian hayatan psikologis Agustinus. Rasa ketakutan universal manusia akan kehilangan hal-hal yang berharga. Semakin berlimpah hal yang berharga yang dimiliki oleh seseorang, maka semakin besar pula rasa ketakutan dan kebutuhannya terhadap tembok. Bangunan tembok pada akhirnya memberikan perlindungan sehingga memperoleh rasa aman. Semakin besar rasa takut kehilangan seseorang akan semakin membangun tembok besar yang tertutup rapat dan tidak tertembus. Sebaliknya, siapa yang tidak merasa terancam tidak membutuhkan tembok.
Peradaban tembok adalah peradaban tua yang dipraktikkan di beberapa negara di dunia. Di Cina, terkenal dengan Tembok Besar Ming (abad ke-14 M) yang panjangnya 6.000 kilometer, dilengkapi 20.000 menara, balok-balok batu berdiri dengan rata-rata 10 meter, pada bagian atasnya terdapat jalan setapak selebar 8 meter untuk patrol tentara dan kuda. Setiap seratusan meter berselang menjulang menara pengintai, di sepanjang Tembok Besar terdapat ribuan menara suar. Demikian gambaran Tembok Besar Ming yang dituliskan oleh Agustinus untuk memberikan gambaran seberapa rasa takut dan kebutuhan terhadap rasa nyaman, aman. Di Uni Soviet pada tahun 1952 membangun tembok Tirai Besi sepanjang 7.000 kilometer untuk menghadang ancaman Eropa Timur. Tembok Berlin dibangun oleh Jerman Timur yang kemudian bernama “Tembok Pelindung Anti-Fasis”. Dan di Amerika Serikat juga memiliki tembok pembatas antara Amerika Serikat dan Meksiko sepanjang 2.000 mil.
Perjalanan peradaban mengalami perubahan. Tembok-tembok yang awalnya berupa fisik bangunan beralih ke tembok baru berupa tembok dokumen yaitu visa. Dari tembok-tembok yang sesungguhnya tumbuh dari tembok otak tersebut memunculkan kotak-kotak perbedaan–“kita dan mereka”. Orang-orang yang teridentifikasi sama, maka, akan dimasukkan ke kategori “kita” (ingroup), sedangkan orang-orang yang teridentifikasi sebagai yang berbeda dan musuh akan dimasukkan ke kategori “mereka” (outgroup). Dari proses identifikasi dan kategorisasi tersebut, bisa memunculkan konflik dan terpecah-belah. Agustinus menuliskan konflik berdarah dalam Bab 10 melalui peristiwa Revolusi Islam Iran, yang ia sebut Perang Suci.
Konflik dalam konteks psikologis eksistensial individu dapat diartikan sebagai neurosis. Menurut Fuad Hassan (2014) dalam bukunya Kita dan Kami: Sebuah Analisis Dasar tentang Modus Dasar Kebersamaan, konflik ini bukanlah neurosis patologis yang mendasar, melainkan konflik eksistensial yang disebabkan adanya pertentangan dua daya intrapsikis. Bahwa konflik tersebut adalah gangguan eksistensial untuk mengada bersama. Sebab, masing-masing kita sedang menghadapi manusia lain yang memiliki eksistensinya masing-masing demi mengada sebagai manusia. Disinilah titik rentan terjadinya konflik eksistensial sehingga perlu mengolah ke-Aku-an untuk mengada secara bersama-sama sebagai sesama manusia.
Lebih jauh, kita bisa memunculkan pertanyaan dari hasil identifikasi dan kategorisasi “kita dan mereka” yang tumbuh dari tembok-tembok otak. Bisakah “kita dan mereka” dihilangkan secara total sehingga di dunia manusia tidak ada kategorisasi “kita dan mereka”? Dalam konteks psikologis, tidak bisa. Sebab, kategorisasi tersebut adalah proses alamiah kognitif dalam konteks interaksi antarmanusia yang bertujuan menyederhanakan dunia yang sangat kompleks. Agar proses kategorisasi “kita dan mereka” tidak menghasilkan konflik dan pecah-belah berdarah. Maka, yang perlu dilakukan adalah proses rekategorisasi.
Rekategorisasi adalah proses pengelompokan ulang ke dalam identitas yang lebih besar, dengan mengutamakan kesamaan individu atau kelompok. Misalnya, ketika suku A, B, C, dan suku-suku lain dikelompokkan berdasarkan perbedaannya masing-masing, maka proses kategorisasi tersebut rentan konflik dan pecah-belah. Sehingga perlu dilakukan rekategorisasi yaitu suku A, suku B, suku C, dan suku-suku yang lainnya adalah sama-sama sebagai warga Indonesia. Meskipun, antara suku-suku tersebut dan suku-suku yang lainnya berbeda-berbeda. Warga Negara Indonesia adalah identitas baru yang lebih besar hasil dari proses rekategorisasi.
Agustinus, di dalam bukunya memberikan tawaran dengan integrasi sebagai proses rekategoriasi. Integrasi adalah proses hidup bersama dengan memberikan izin kepada orang-orang dengan identitasnya masing-masing untuk tetap menjadi diri sendiri, sekaligus sebagai bagian dari masyarakat sebuah bangsa yang majemuk. Dalam kajian pengelolaan keberagaman masyarakat, integrasi adalah multikulturalisme, bukan melting pot atau asimilasi yang mensyaratkan peleburan menjadi satu identitas baru yang seragam. Multikulturalisme adalah jalan hidup berdampingan dengan tetap mempertahankan ciri khas budaya masing-masing kelompok.
Sebagai gambaran proses integrasi yang ditawarkan oleh Agustinus, di tahun 2010-an ketika didapati ayahnya sakit stroke parah. Agustinus menawarkan untuk pulang ke tanah leluhur Tiongkok, “Papa, cepatlah sembuh. Nanti aku akan bawa Papa huiguo, pulang ke tanah air”. Di luar dugaan Agustinus, ayahnya menggeleng, “Bukan. Itu namanya bukan ‘pulang ke tanah air’. Itu hanya ‘pergi ke Tiongkok’. Tanah air kita ada di sini, Indonesia”. Ayah Agustinus melanjutkan dengan, “Indonesia telah mengakui kita, mengakui budaya kita. Kita sekarang adalah orang Indonesia, bukan lagi warga kelas dua”. Demikian ungkapan seorang ayah usia senja yang sedang sakit stroke parah dengan penuh kepastian pasca-reformasi 1998.
Baca tulisan menarik lainnya di Dedikasi.id!
Penulis: Sunarno (Dosen Psikologi Sosial UIN Syekh Wasil Kediri dan Pembina LPM Dedikasi)
Editor: Saffana Alfy
© 2023 Dedikasi.