Site icon DẽDIKASI.ID

Mengapa Seseorang Mati dengan Bunuh Diri (?)

Ilustrasi

Ilustrasi

(DEDIKASI.ID) – Warga Kediri, di akhir bulan April 2026 dikagetkan dengan dua kasus bunuh diri. Kaget, sebab, kasus bunuh diri tersebut berturut-turut tanpa jeda. Pertama, tanggal 23 April 2026 seorang pemuda (29 tahun) menabrakkan diri ke truk Pertamina. Kedua, kasus seorang remaja (15 tahun) gantung diri di gudang Masjid. Dan berita terbaru (2 Mei 2026), aksi percobaan bunuh diri di jembatan Wijaya Kusuma yang berhasil digagalkan oleh warga. Beberapa kasus tersebut memunculkan keprihatinan tentang kondisi kesehatan mental warga Kediri. Namun, pertanyaannya adalah benarkah bunuh diri (selalu) berkaitan dengan kesehatan mental?

Berbagai penelitian memang menunjukkan bahwa orang yang mati karena bunuh diri umumnya pernah mengalami satu jenis atau lebih gangguan mental pada masa hidupnya. Namun, gangguan mental pada seseorang bukan satu-satunya penyebab. Faktanya, kebanyakan dari kita yang memiliki rasa sakit emosional, keputusasaan, atau kesulitan mengelola emosi, atau hal lainnya — tidak lantas mati dengan bunuh diri.

Thomas Joiner (2005) dalam bukunya Why People Die by Suicide menjelaskan bahwa seseorang mati bunuh diri disebabkan adanya interaksi kompleks antara genetik, neurobiologis, dan kepribadian yang dimiliki oleh individu. Beberapa studi menunjukkan bahwa beberapa gen dikaitkan dengan perilaku bunuh diri, diantaranya: Gen Transporter Serotonin berperan dalam mengatur suasana hati, stres, dan emosi, Gen Tryptophan Hydroxylase (TPH) dikaitkan dengan depresi berat, perilaku bunuh diri, dan kemarahan dan Gen Cathecol-O-Methyltransferase (COMT) dikaitkan dengan gangguan kecemasan, skizofrenia, dan cara tubuh merespons rasa sakit

Lebih jauh, Thomas Joiner dalam bukunya yang diterbitkan oleh Harvard University Press tersebut memperkenalkan teori Interpersonal-Psikologis, bahwa bunuh diri terjadi karena kombinasi perasaan menjadi beban bagi orang lain (perceived burdensomeness), perasaan keterasingan diri (thwarted belongingness), dan kemampuan yang dipelajari untuk menyakiti diri sendiri. Thomas Joiner menekankan bahwa bunuh diri tidak cukup dengan niat saja, melainkan memerlukan kemampuan (yang dipelajari) untuk melampaui rasa takut terhadap rasa sakit.

Pertama, perasaan menjadi beban bagi orang lain. Seseorang yang mati dengan bunuh diri dalam konteks ini memiliki pandangan bahwa keberadaannya membebani keluarga, teman, pacar, maupun masyarakat. Pandangan ini menghasilkan satu gagasan yang menurut Ki Ageng Suryomentaram sebagai bentuk Kecemplung Gagasan — bahwa “kematianku akan lebih berharga daripada hidupku bagi keluarga, teman, pacar, maupun masyarakat”; “untuk apa aku hidup kalau hanya menjadi beban bagi orang-orang terdekatku”.

Kedua, merasa terasing dari orang lain yang disebabkan oleh rendahnya rasa memiliki. Seseorang yang memiliki perasaan terasing dari orang lain ini bahkan dirinya merasa bukan bagian dari keluarga, merasa bukan bagian dari lingkaran pertemanan, atau merasa bukan bagian dari kelompok-kelompok lainnya.

Ada dua studi yang menguji hubungan antara keterasingan sosial dan perasaan menjadi beban bagi orang lain terhadap kecenderungan bunuh diri. Studi pertama menemukan bahwa seseorang yang merasa tidak mendapat dukungan sosial dari keluarga sekaligus merasa dirinya tidak berarti bagi orang lain—memprediksi ide untuk bunuh diri, bahkan di luar indeks depresi. Studi kedua melangkah lebih jauh, bahwa kombinasi tiga arah antara rendahnya rasa memiliki (keterasingan sosial), merasa menjadi beban bagi orang lain yang dirasakan, dan jumlah percobaan bunuh diri—memprediksi percobaan bunuh diri, di luar indeks depresi.

Ketiga, memiliki kemampuan yang dipelajari untuk menyakiti diri sendiri. Kemampuan ini terbentuk dari pengalaman hidup yang berulang kali bersentuhan dengan rasa sakit — mereka akhirnya mampu melukai diri sendiri secara letal (mematikan) yang meningkatkan resiko bunuh diri apabila memiliki keinginan untuk mati. Salah satu faktor pembentuknya adalah kesengsaraan di masa kanak-kanak. Kesengsaraan di masa kanak-kanak memberikan pengalaman-pengalaman “terbiasa dengan rasa sakit”, juga menjadikan anak merasa tidak bernilai dan terasing. Lebih jauh, kondisi tersebut berbahaya bagi aksis Hypothalamic Pituitary-Adrenal (HPA) yang dapat meningkatkan risiko bunuh diri di masa dewasa.

Mikir Leres sebagai Tameng Bunuh Diri

Mikir leres berarti berpikir benar, yakni salah satu pendekatan untuk menyelesaikan permasalahan hidup (ngudari reribet) yang digagas oleh Ki Ageng Suryomentaram. Mikir leres melibatkan proses intropeksi diri (mawas diri) terhadap hal-hal yang menjadikan permasalahan hidup (reribet)—dengan cara Kandha-Takon, berdialog dengan diri sendiri atau dengan orang lain. Tujuannya adalah menemukan sebab dari sebuah akibat melalui berpikir secara runtut, logis, dan berkesinambungan.

Menurut pemikiran Ki Ageng Suryomentaram, fenomena mati bunuh diri (nglalu) adalah bentuk dari keberatan masalah hidup (kabotan reribet) sekaligus mengalami kebuntuan berpikir (judeg mikir). Kebuntuan berpikir yang tidak dapat menghasilkan alternatif penyelesaian masalah—bisa saja muncul pada dirinya untuk pergi dari rumah (minggat), atau gantung diri (ngendat).

Mikir leres yang dilakukan dengan berdialog dengan diri sendiri dan orang lain terhadap permasalahan hidup yang dihadapi sampai menemukan sebab dari permasalahan. Apabila sebab dari permasalahan sudah ditemukan, tugasnya adalah mengganti atau merubah sebab yang menjadikan akibat. Tentu, akibat disini bukan sebuah akibat (mati bunuh diri) yang sudah terjadi. Tetapi ketika seseorang masih menghadapi masalah dan merasakan beratnya permasalahan.

Semua berawal dari rasa. Ketika seseorang memiliki permasalahan yang berat, dalam bahasa jawa kabotan reribet sehingga sampai buntu berpikir (judeg mikir), bagaimana rasanya? Tentu, rasanya sumpek, resah, gelisah, tidak tenang. Maka, penyebab dari rasa sumpek itu tadi perlu ditemukan dengan menggunakan pendekatan mikir leres. Misalkan, seorang remaja yang mengalami putus dengan pacar. Terlepas dari unsur genetis, neurobiologis, dan kepribadiannya—anggap remaja tersebut mengalami kebuntuan berpikir, bahwa putus dengan pacar menjadikan dirinya keberatan masalah (kabotan reribet). Maka, mikir leres akan melakukan proses intropeksi dengan berpikir secara runtut sehingga menemukan sebab “mengapa putus dengan pacar”.

Apabila sebab itu dar putus dengan pacar sudah ditemukan, agar rasanya kembali enak dan tidak sumpek, maka perlu mengubah penyebabnya. Misalnya, karena terlalu cintanya remaja tersebut pada pacarnya, ia memiliki anggapan bahwa dunia akan hancur berantakan tanpa kehadiran sang pacar. Maka yang perlu diubah adalah gagasan itu sendiri — bahwa dunia akan tetap baik-baik saja dan tidak hancur berantakan, meskipun tidak memiliki pacar “dia”.

Sebab dari ke-judeg-an mikir sesungguhnya adalah gagasannya sendiri. Maka, yang perlu diganti dan diubah adalah gagasan yang salah tentang tanggapan putus dengan pacar yang dihasilkan oleh pikirannya sendiri. Puncak capaiannya adalah ketika seseorang benar di dalam melakukan proses mikir leres, maka, hilanglah judeg mikir yang dialaminya—akan merasakan hidup dalam terang, padhang.

Baca tulisan menarik lainnya di Dedikasi.id!

Penulis: Sunarno (Dosen Psikologi Sosial UIN Syekh Wasil Kediri dan Pembina LPM Dedikasi)

Editor: Saffana Alfy

Exit mobile version