(DEDIKASI.ID) – Kamis (15/01/2026) di Lapangan Dusun Jatiwringin, Desa Sukoharjo, Kecamatan Kayen Kidul, Kabupaten Kediri, tampak lebih hidup dari biasanya. Sejak pukul 07.00 hingga 09.00 WIB, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 8 UIN Syekh Wasil Kediri bersama masyarakat setempat melaksanakan kegiatan penanaman pohon sebagai wujud dari implementasi tema KKN ekoteologi dan moderasi beragama.
Di bawah langit kelabu itu, warga desa kerap menganggapnya sebagai wektu sing trep kanggo nandur. Mahasiswa terlihat bergantian menggali tanah, menata bibit, memberi pupuk dan menyiram tanaman. Tidak ada kemewahan dalam pelaksanaan kegiatan ini. Namun justru dalam kesederhanaan itulah nilai pengabdian dan kebersamaan tumbuh perlahan.
Kegiatan penanaman pohon ini merupakan program wajib yang diberikan oleh kampus kepada seluruh mahasiswa KKN. Setiap mahasiswa diwajibkan menanam tiga pohon sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan. Dalam pelaksanaannya, KKN Kelompok 8 berhasil menanam sebanyak 45 pohon, yang terdiri dari 35 pohon alpukat dan 10 pohon mangga.
Pemilihan pohon alpukat bukan tanpa alasan. Alpukat telah lama dikenal sebagai salah satu komoditas khas Desa Sukoharjo yang memiliki nilai ekonomis dan ekologis. Sementara itu, pohon mangga dipilih sebagai tanaman produktif tambahan yang diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat. Bagi warga desa, menanam pohon berarti menitipkan harapan pada tanah “ora kanggo awake dhewe wae, nanging kanggo anak putu mbesuk”.
Lapangan Dusun Jatiwringin dipilih sebagai lokasi penanaman karena merupakan ruang terbuka yang sering menjadi pusat aktivitas masyarakat. Keberadaan pohon-pohon tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat ekologis dan sosial, mulai dari peneduh alami, penyerap air hujan, hingga sumber udara yang lebih bersih. Dengan menanam di ruang publik, manfaatnya diharapkan dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat luas.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Kelompok 8, Dr. Shofiyul Huda MF,, M.Ag, menegaskan bahwa kegiatan penanaman pohon tidak boleh dimaknai sebatas pemenuhan kewajiban akademik. Menurutnya, tema ekoteologi yang diusung dalam KKN mengandung pesan bahwa menjaga alam merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai makhluk beriman.
“Ekoteologi mengajarkan bahwa alam bukan sekadar objek yang boleh dieksploitasi, tetapi ciptaan Tuhan yang harus dijaga. Menanam pohon adalah bentuk ibadah sosial yang nyata,” ujarnya. Ia juga menekankan bahwa kegiatan sederhana seperti ini justru memiliki dampak jangka panjang apabila dilakukan dengan kesadaran dan keberlanjutan.
Kegiatan ini turut didampingi oleh Kepala Dusun Jatiwringin, Retno Nugrahani, sebagai perwakilan aparat desa. Kehadirannya menjadi simbol dukungan pemerintah desa terhadap program KKN mahasiswa. Sinergi antara mahasiswa dan aparat desa mencerminkan semangat guyub rukun yang masih kuat di tengah masyarakat pedesaan. Dalam hal inilah, nilai kebersamaan tumbuh dari kerja bersama, bukan hanya sekedar wacana.
“Kami menyambut baik kegiatan penanaman pohon ini. Selain bermanfaat untuk lingkungan, kegiatan seperti ini juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap alam sekitar,” tutur Retno Nugrahani. Ia berharap pohon-pohon yang telah ditanam dapat dirawat bersama agar tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata.
Baca tulisan lainnya
- Solidaritas Lintas Komunitas, Suarakan Kesaksian Untuk Saiful Amin (Sam Oemar)
- Sastra Sindhunatan Pangruwating Kahanan
Sementara itu, Ketua Pelaksana, Bahrul Alimi, menyampaikan bahwa penanaman pohon ini menjadi bentuk konkret pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi ruang belajar bahwa pengabdian tidak selalu diwujudkan melalui program besar, tetapi dapat dimulai dari langkah-langkah kecil yang berkelanjutan.
“Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Pohon yang ditanam hari ini semoga bisa tumbuh dan dirawat bersama,” ungkapnya.
Lebih dari sekadar program kerja, penanaman pohon ini menjadi pengalaman reflektif bagi mahasiswa KKN. Proses menanam mengajarkan kesabaran serta kesadaran bahwa hasil dari sebuah usaha tidak dapat dinikmati secara instan. Pohon-pohon yang ditanam hari ini mungkin belum memberi manfaat langsung, namun kelak akan menjadi peneduh, sumber buah, sekaligus penjaga keseimbangan lingkungan.
Dalam falsafah Jawa dikenal ungkapan urip iku nandur, hidup adalah proses menanam kebaikan yang hasilnya akan dipetik di kemudian hari. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Kelompok 8 Desa Sukoharjo berupaya menghadirkan pengabdian yang lebih holistik, yaitu pengabdian yang menyentuh dimensi sosial, ekologis, dan spiritual secara bersamaan. Ekoteologi dan moderasi beragama tidak berhenti sebagai konsep teoritis, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata bersama masyarakat.
Kegiatan penanaman pohon di Dusun Jatiwringin menjadi langkah kecil yang sarat akan makna. Langkah kecil yang ditanam bersama tanah desa, dirawat bersama masyarakat, dan diharapkan tumbuh menjadi warisan kebaikan. Sebab, sebagaimana keyakinan yang hidup di tengah masyarakat Jawa, sing nandur bakal ngundhuh. Maksudnya, siapa yang menanam, kelak akan memetik hasilnya.
Baca tulisan menarik lainnya di Dedikasi.id!
Penulis: Ratih Setya
Editor: Saffana Alfy

