(DEDIKASI.ID) – Asap dari kuali besar perlahan memenuhi dapur sederhana milik Pak Bisri Mustofa (56) di Desa Semen, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Dengan tangan yang sudah terbiasa bekerja, ia mengangkat adonan kedelai panas. Setelahnya ia menyaringnya, lalu mencetaknya menjadi tahu. Rutinitas itu sudah ia lakukan hampir setiap hari sejak puluhan tahun lalu. Bagi Pak Bisri, membuat tahu bukan hanya pekerjaan, tetapi juga cara ia menghidupi keluarganya. Saat ditemui pada 13 Juli 2026, Pak Bisri menceritakan bahwa usahanya dimulai ketika ia berusia sekitar 25 tahun. Awalnya, ia belajar membuat tahu di tempat produksi miliki kerabatnya. Dari sana, ia memulai memahami proses pembuatan tahu dan akhirnya memberanikan diri membuka usaha sendiri di rumah. Hingga sekarang seluruh proses produksi maka ia kerjakan tanpa bantuan karyawan.
Setelah selesai berjualan pada pagi hari, Pak Bisri mulai mempersiapkan proses produksi. Kedelai yang akan digunakan direndam terlebih dahulu sejak pagi hingga siang agar mengembang dan lebih lunak. Dalam sekali masakan, ia menggunakan delapan rantang kedelai sebagai takaran bahan utama. Dalam sehari, Pak Bisri biasanya memasak tahu
sebanyak dua kali. Jika permintaan sedang banyak ia bisa memasak tiga hingga empat kali. Sekali memasak menghasilkan sekitar 60 potong tahu.
Sekitar pukul 13.00 WIB, proses memasak dimulai. Kedelai yang telah direndam digiling menggunakan mesin hingga menjadi adonan yang halus. Sementara itu, air dipanaskan di dalam kuali besar khusus pembuatan tahu. Setelah air mendidih, adonan kedelai dimasukkan sedikit demi sedikit sambil terus diaduk hingga kembali mendidih. Adonan yang sudah matang kemudian dipindahkan ke tempat penyaringan yang dilapisi kain. Pada tahap ini, sari kedelai dipisahkan dari ampasnya. Sari kedelai tersebut juga bisa diminum sebagai susu kedelai, sedangkan ampasnya biasanya dijual untuk pakan ternak. Setelah itu, sari kedelai diaduk perlahan hingga membentuk gumpalan putih. Gumpalan inilah yang nantinya menjadi tahu. Selanjutnya, gumpalan dipindahkan ke dalam cetakan, lalu ditutup dan ditindih beban diatasnya agar airnya keluarnya dan tekstur menjadi padat. Setelah sekitar satu jam, tahu dipotong menggunakan alat yang dimodifikasi sebagai penggaris agar tahu sama ukurannya satu sama lain. Supaya tahu tetap segar, potongan tahu disusun di dalam gerobak yang berisi air. Seluruh proses produksi berlangsung hingga selesai pada sore hari sebagai persiapan untuk tahu yang akan dijual keesokan paginya.
Bahan baku diperoleh dari adiknya yang juga menjalankan usaha tahu dan mengambil kedelai dari pasokan agen. Menurut Pak Bisri, kualitas tahu sangat ditentukan oleh kualitas kedelainya.
“Tahu yang berkualitas berangkat dari kedelai yang bagus,” ujarnya.
Dalam menjalankan usaha tahunya, Pak Bisri membutuhkan sekitar 16 kilogram kedelai setiap harinya sebagai bahan baku utama. Saat ini, harga kedelai berada di kisaran Rp11.100 per kilogram. Namun, ketika harga mengalami kenaikan, harganya dapat mencapai sekitar Rp12.000 per kilogram. Kenaikan harga bahan baku tersebut tentu menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi Pak Bisri dalam mempertahankan produksi tahu setiap harinya. Karena itu, ia tetap berusaha menggunakan kedelai yang baik meskipun harga bahan baku sering mengalami kenaikan. Saat harga kedelai sedang tinggi, ia biasanya mencampurnya sebagian kedelai utuh dengan kedelai pecahan agar biaya produksi tidak terlalu membengkak. Selain harga bahan baku, tantangan lain yang dialami Pak Bisri adalah di bidang pemasaran. Selama ini, usaha tersebut masih dijalankan sendiri sehingga belum banyak berkembang. Pak Bisri juga mengaku cukup sering mengalami masa sepi pembeli, terutama ketika harga ayam sedang murah. Meski begitu, ia tetap memilih berjualan setiap
hari. Mulai pukul 06.00 hingga 08.00, ia berkeliling menggunakan sepeda motor dengan membawa gerobak berisi tahu. Selain menjual langsung kepada pembeli, ia juga memiliki beberapa pelanggan tetap, terutama penjual gorengan.
Di balik perjalanan usahanya, ada satu hal yang membuat Pak Bisri merasa bangga. Dahulu, kedua adiknya pernah belajar membuat tahu di tempat produksinya. Kini, keduanya sudah memiliki usaha tahu sendiri. Baginya, itu menjadi salah satu pencapaian yang tidak pernah ia bayangkan. Usaha tahu ini juga menjadi sumber penghasilan utama yang mampu menghidupi istri dan ketiga anaknya hingga dewasa. Walaupun usahanya belum berkembang pesat, Pak Bisri tetap bersyukur karena dari usaha sederhana tersebut ia dapat memenuhi kebutuhan keluarganya. Kini, di usianya yang tidak lagi muda, Pak Bisri berharap usahanya bisa terus berkembang. Ia ingin memiliki rekan yang dapat membantu menjalankan usaha agar tidak hanya bergantung pada dirinya seorang.
Di tengah banyaknya makanan modern yang terus bermunculan, Pak Bisri tetap setia mempertahankan usaha tahu yang sudah menjadi bagian dari hidupnya selama lebih dari 30 tahun. Setiap potong tahu yang ia jual bukan hanya hasil olahan kedelai, tetapi juga hasil dari kerja keras, ketekunan, dan semangat untuk terus bertahan. Dari dapur sederhana di Desa Semen, Pak Bisri menunjukkan bahwa usaha kecil pun bisa menjadi penopang kehidupan jika dijalani dengan konsisten dan penuh tanggung jawab.
Baca tulisan menarik lainnya di Dedikasi.id!
Reporter: Umi Khabibah
Penulis: Umi Khabibah
*Berita ini merupakan karya anggota magang untuk mengikuti kegiatan Penempuhan Kartu Pers 2026

