(DEDIKASI.ID) – KEDIRI, LPM DEDIKASI – Sejumlah anak muda di Kota Kediri tetap menggelar temu politik “Muda-Mudi” pada peringatan Hari Sumpah Pemuda, Rabu (28/10), meskipun sebelumnya menghadapi penolakan terkait penggunaan ruang publik. Acara tersebut digelar untuk mendorong partisipasi generasi muda dalam kehidupan publik sekaligus menggalang donasi bagi korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Panitia mengaku telah mengajukan izin penggunaan taman kepada Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri sebanyak empat kali. Namun, permohonan tersebut ditolak tanpa disertai penjelasan yang memadai. Panitia menilai penolakan itu menjadi hambatan bagi anak muda untuk memanfaatkan ruang publik secara damai.
“Ketika kami coba meminjam tempat, ternyata tidak diizinkan. Sampai hari ini tidak diizinkan. Ketika kami tanya alasan di balik tidak diizinkannya, kami tidak kunjung mendapat keterangan,” ujar perwakilan panitia, Izzat.
Ia menegaskan bahwa kegiatan yang direncanakan, berupa diskusi dan pertunjukan seni, merupakan aktivitas wajar bagi anak muda. Menurutnya, taman sebagai ruang publik semestinya dapat dimanfaatkan warga untuk berdiskusi, berserikat, dan menyatakan pendapat.
“Kami pikir, hak kebebasan berserikat, berdiskusi, dan menyatakan pendapat pada momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda masih tetap bisa dijalankan karena kami tidak melanggar apa pun,” kata Izzat.
Meski menghadapi kendala perizinan, acara tetap berlangsung dengan melibatkan mahasiswa, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), komunitas literasi, komunitas kopi, organisasi mahasiswa eksternal, pemilik kedai kopi, serta pelaku seni. Panitia menyatakan kegiatan ini bertujuan menghidupkan kembali semangat Sumpah Pemuda dan mendorong anak muda Kediri untuk lebih aktif mengisi ruang publik.
Dalam acara tersebut, panitia juga menggalang donasi untuk korban karhutla di Sumatera, Papua, Kalimantan, dan Sulawesi. Hingga pelaksanaan acara, dana yang terkumpul diperkirakan mencapai lebih dari Rp3 juta. Penggalangan dana tersebut telah dimulai sejak 25 Oktober melalui kegiatan di CFD Doho dan CFD Pare.
“Anak-anak muda yang ada di luar Jawa tidak merasakan udara yang sejuk. Mereka harus menghirup asap dan terkena penyakit ISPA setiap harinya,” ujar Izzat.
Salah satu pengunjung, Dewantara, warga Prambon, Nganjuk, mengatakan bahwa dirinya hadir karena ingin berdiskusi mengenai kondisi bangsa. Ia menilai penggalangan dana tersebut sebagai bentuk empati dan solidaritas masyarakat terhadap korban karhutla.
“Penggalangan dana tentu sangat bagus karena ini bentuk kasih sayang, pertolongan, dan empati kita kepada saudara-saudara kita,” katanya.
Dewantara berharap dana yang terkumpul dapat membantu para korban karhutla. Ia juga berharap forum serupa dapat mendorong masyarakat untuk lebih terbuka dan berpikir kritis.
“Saya harapkan kepada seluruh masyarakat Indonesia mampu membuka pikiran dan mampu berpikir kritis,” ujarnya.
Panitia berharap kendala perizinan tidak menghentikan ruang partisipasi anak muda di Kediri. Mereka mendorong generasi muda untuk terus berkumpul, berkolaborasi, dan memperkuat peran kolektif dalam urusan publik.
“Ayo kita sering-sering bikin agenda bareng di Kediri, anak muda Kediri, berkolektif bersama,” tutup Izzat.
Reporter: Intan, Hasna, Tahsin
Penulis: Ersyang, Devina, Putri
Editor: Saffana Alfy Karomah

