(DEDIKASI.ID) – KEDIRI- Gedung rektorat UIN Syekh Wasil Kediri menjadi saksi bisu atas aksi demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa lintas fakultas pada Rabu, (20/05/2026) pagi. Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pihak rektorat terkait ruang akademik, program KIP Kuliah, penanganan kekerasan seksual, hingga fasilitas kampus.Dalam aksi tersebut, Presiden Mahasiswa (Presma) UIN Syekh Wasil Kediri, Sabilul Haq, Mengomandoi massa dan menyampaikan beberapa tuntutan utama secara langsung kepada jajaran rektorat. Aksi ini digelar sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap kondisi kampus yang dinilai membutuhkan banyak pembenahan.
“Kami mendesak pihak rektorat untuk segera melakukan pembenahan terhadap berbagai persoalan di lingkungan kampus, mulai dari ruang akademik, sistem UKT dan KIP Kuliah, penanganan kekerasan seksual, hingga fasilitas kampus,” ujar Sabilul Haq, saat membacakan tuntutan mahasiswa.
Baca Tulisan Lainnya
- UKM Amoeba UIN Kediri Gandeng Eks Asisten Didi Kempot Cetak Komposer Muda Lewat Music Talk
- Manten Kopi ; Tradisi Unik Simbol Rasa Syukur
Ditengah lingkaran massa yang mengawal ketat jalannya aksi, Sabilul Haq membacakan empat poin tuntutan krusial yang dinilai menjadi masalah sistematik di lingkungan kampus pada saat itu. Dalam dokumen tuntutan yang dibacakan, hal tersebut menyoroti adanya dugaan intervensi terhadap kebebasan berpendapat di ruang akademik. Mereka mendesak pihak rektorat menjamin keamanan seluruh civitas akademika dalam menyampaikan pandangan kritis sebagai bagian dari aktivitas akademik.
Aliansi Mahasiswa UIN Syekh Wasil Kediri meminta evaluasi total terhadap pengelolaan program KIP Kuliah, mulai dari mekanisme survei, transparansi penentuan penerima, hingga dugaan penyalahgunaan bantuan oleh oknum tertentu. Selain itu, massa aksi juga menyoroti kerjasama program KIP Kuliah dengan sejumlah pondok pesantren di sekitar kampus yang dinilai berpotensi menempatkan mahasiswa sebagai objek eksploitasi. Mereka meminta pihak kampus meninjau ulang kebijakan tersebut.
Isu kekerasan seksual turut menjadi perhatian utama dalam audiensi. Mahasiswa mendesak kampus untuk memperbarui dan mensosialisasikan aturan terkait penanganan pelecehan dan kekerasan seksual di lingkungan kampus. Mereka juga meminta evaluasi terhadap kinerja satuan tugas yang menangani persoalan tersebut.
Tak hanya itu, mahasiswa juga mengkritik persoalan fasilitas kampus. Beberapa tuntutan yang disampaikan antara lain perbaikan sarana dan prasarana, pemerataan fasilitas kamar mandi, evaluasi dosen yang dianggap tidak kompeten, pembangunan tempat pembuangan sampah kampus, hingga pemasangan CCTV di setiap lantai atau ruang kelas.
Selama proses pembacaan tuntutan dan adu argumen, suasana sempat memanas secara gagasan, namun massa aksi tetap menjaga barisan dan menyuarakan aspirasi dengan tertib. Rektor UIN Syekh Wasil Kediri, Prof. Dr. H. Wahidul Anam, M.Ag., pun menanggapi satu per satu poin-poin kritis tersebut secara terbuka.
“Kampus ini besar dan tidak mungkin dijalankan sendiri tanpa partisipasi mahasiswa,” ujar Wahidul Anam saat audiensi berlangsung.
Puncak dari aksi ini terjadi ketika pihak rektorat sepakat untuk mengakomodasi seluruh tuntutan mahasiswa. Audiensi terbuka tersebut resmi ditutup dengan penandatanganan surat perjanjian bersama di hadapan ratusan pasang mata mahasiswa. Dokumen ini menjadi bukti hitam di atas putih bahwa pihak rektorat berkomitmen penuh untuk melakukan tindak lanjut nyata dalam waktu dekat.
Seluruh mahasiswa yang hadir menutup aksi dengan menyanyikan lagu “Indonesia Pusaka” secara khidmat. Sebelum membubarkan diri, ratusan mahasiswa ini tidak langsung pulang. Mereka secara komunal memunguti sampah, mencopot spanduk, dan menyapu bersih kembali area halaman Rektorat.
Baca tulisan menarik lainnya di Dedikasi.id!
Penulis:
- Cindy Amrina
- Sabrina Aysatul
Reporter:
- Maya Silvia
- Andika
Editor:
- Saffana Alfy Karomah

